Satu peluru. Itulah yang mengakhiri hidup Sam Fahd Abu Haikal pada usia tujuh bulan, sekaligus merobek pipi sang ibu yang saat itu mendekap bayinya di dalam mobil keluarga mereka.
Jumat malam (5/6/2026), di dekat Pos Pemeriksaan 17, kawasan Tel Rumeida di selatan Kota Hebron. Keluarga kecil itu sedang berkendara ketika melihat kendaraan militer Israel di kejauhan. Tentara menghentikan mobil mereka. Tembakan dilepaskan. Keluarga ini sempat menduga itu hanya peringatan.
Bukan. Peluru itu menembus wajah Sam, melewati kepalanya, lalu bersarang di pipi sang ibu. Sang ayah terluka di jarinya. Neneknya yang kemudian menceritakan detik-detik itu, dan kalimatnya sulit didengar tanpa bergidik: "Satu peluru mengenai cucu saya, menembus wajahnya dan melewati kepalanya, mengenai pipi ibunya, tempat peluru itu bersarang."
Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi kematian Sam. Kedua orang tuanya kini dirawat intensif, kondisi luka sedang.
Militer Israel (IDF) mengakui insiden ini lewat unggahan di media sosial X. Versi mereka: pasukan melihat kendaraan melaju ke arah mereka, seorang tentara melepaskan satu tembakan tunggal. "Penyelidikan awal menemukan bahwa mereka yang terluka adalah warga sipil yang tidak terlibat. Insiden tersebut sedang ditinjau dan temuannya akan diserahkan untuk ditinjau oleh pihak berwenang terkait," tulis IDF. Klaim yang, agaknya, masih perlu dibuktikan, mengingat pola serupa berulang dalam setidaknya dua tahun terakhir tanpa akuntabilitas yang berarti.
Pada hari yang sama, di Desa Beitin, timur laut Ramallah, seorang pemuda bernama Haitham Ezzedine Omar Hmeida, 18 tahun, juga gugur ditembak pasukan Israel. Militer Israel menyebut pemuda itu bersama sejumlah orang yang melempar bom molotov ke kendaraan Israel. "Tentara melepaskan tembakan ke arah mereka dan menewaskan salah satu dari mereka," tulis pernyataan IDF.
Dua nyawa Palestina dalam satu hari. Angka yang terasa mustahil untuk dinormalkan, tapi bak hitungan yang sudah terlalu familiar sejak Oktober 2023.
Sejak perang di Gaza meletus, Tepi Barat ikut terbakar. Lebih dari 1.168 warga Palestina tewas di kawasan ini, 12.666 orang terluka, sekitar 23.000 ditahan, dan 33.000 lainnya mengungsi dari rumah mereka sendiri. Sebagai perbandingan, otoritas Israel mencatat 46 warganya tewas dalam serangan Palestina dalam periode yang sama di Tepi Barat.
Tel Rumeida bukan kawasan sembarangan. Ini salah satu titik paling panas di Hebron, tempat ratusan pemukim Israel bermukim di bawah pengawalan ketat tentara, diapit jutaan warga Palestina. Menurut laporan Uni Eropa tahun 2024, lebih dari 700.000 pemukim Israel kini menempati Yerusalem Timur dan Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel sejak 1967, di antara lebih dari 3 juta warga Palestina.
Kematian Sam memantik kecaman. Hamas mengutuk keras apa yang mereka sebut kejahatan perang, sekaligus memuji keteguhan keluarga Abu Haikal yang memilih tetap bertahan di tanah mereka. Mereka mendesak lembaga HAM internasional, khususnya yang berfokus pada perlindungan anak, untuk menekan agar pelaku diseret ke pengadilan internasional.
Tekanan atas Israel juga datang dari Eropa. Irlandia resmi melarang masuk Menteri Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Perdana Menteri Micheal Martin menegaskan negaranya akan terus bertindak terhadap pejabat Israel yang dianggap memperburuk konflik. Prancis sudah lebih dulu melarang Ben-Gvir masuk, dan kini jaksa antiterorisme Prancis membuka penyelidikan atas dugaan penyiksaan dan kejahatan perang terhadap warga negara Prancis yang menjadi bagian dari aktivis Global Sumud Flotilla. Ben-Gvir sebelumnya sempat mengunggah video yang memperlihatkan para aktivis itu ditahan: berlutut, tangan terikat ke belakang, dahi menyentuh tanah.
Kantor Jaksa Anti-terorisme Prancis (PNAT) menyatakan investigasi ini telah dipercayakan kepada OCLCH, kantor pusat Prancis untuk memerangi kejahatan terhadap kemanusiaan dan penyiksaan. Rujukan formal diterima dari Kementerian Luar Negeri Prancis pada 28 Mei 2026.
Bagi warga Tepi Barat, kematian Sam adalah bukti yang terlalu pahit: bahkan pelukan seorang ibu sudah bukan lagi tempat yang aman.