MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Batu Bara Kembali Bersinar, Asia Tinggalkan LNG ya...

Ekonomi

Batu Bara Kembali Bersinar, Asia Tinggalkan LNG yang Makin Mahal

Gangguan pasokan LNG akibat konflik Iran memaksa Jepang dan Korea Selatan kembali ke batu bara, sementara harga komoditas ini menguat ke US$136,4 per ton dan pelaku industri dalam negeri mendesak fleksibilitas regulasi.

Permintaan LNG terganggu, Asia alihkan energi ke batu bara

Harga batu bara menggeliat. Bukan tren biasa, ini balik badan yang dipaksa oleh satu faktor yang datang dari jauh: konflik Iran yang memorak-porandakan rantai pasok LNG global.

Jepang dan Korea Selatan, dua importir LNG terbesar di Asia, secara bersamaan menaikkan porsi pembangkit listrik berbahan bakar batu bara sepanjang April hingga awal Mei. Bukan karena pilihan. Terpaksa. Produksi listrik berbasis gas di Jepang amblas ke level terendah dalam dua tahun, sementara Korea Selatan menyentuh titik terendah dalam enam bulan terakhir.

Batu bara melesat mengisi ruang itu. Jepang mencatat kenaikan 11,1% secara tahunan pada April. Korea Selatan membukukan lonjakan 39,7% di periode yang sama. Angka yang tidak main-main, bahkan untuk pasar energi Asia yang biasanya bergerak pelan-pelan.

Akarnya ada di Qatar. Pemasok LNG kelas satu itu kehilangan sebagian kapasitas ekspor imbas konflik Iran, dan efeknya mengalir deras ke seluruh jalur distribusi Asia. Harga LNG Asia meledak, naik sekitar 62% sejak perang meletus. Pada titik itu, utilitas listrik tidak punya banyak ruang manuver: batu bara, yang pasokannya relatif terjaga dan harganya masih lebih moderat, kembali jadi andalan.

Waktunya pun pas, kalau data ini bisa dipercaya sebagai kebetulan. Menjelang musim panas, sejumlah pembangkit nuklir di Asia sudah terjadwal masuk pemeliharaan, menciptakan celah pasokan yang harus ditambal dari sumber lain. Batu bara mengisi celah itu. Vietnam ikut terbawa arus yang sama, dengan konsumsi listrik berbasis batu bara mencapai rekor di tengah gelombang panas yang menghantam kawasan.

Pasar sudah membaca pergeseran ini lebih awal. Harga batu bara kontrak acuan terkerek ke US$136,4 per ton, sinyal bahwa permintaan fisik mulai mendorong harga naik setelah sempat loyo beberapa bulan.

Di dalam negeri, momentum ini dimanfaatkan pelaku industri untuk mendorong perubahan kebijakan. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mendesak pemerintah memberi fleksibilitas dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), supaya produsen bisa lebih gesit merespons lonjakan permintaan global yang sifatnya mendadak. Selama ini, rigiditas regulasi RKAB kerap membuat produsen gagal menyerap peluang di saat harga membaik. Bak gayung bersambut yang tidak pernah terjadi tepat waktu.

Satu variabel lain masih mengintai: El Nino. Fenomena cuaca itu secara historis mendorong permintaan energi naik di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kalau musim kemarau lebih panjang dari biasanya, batu bara punya katalis tambahan. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum pasokan LNG kembali normal?

Krisis LNG ini, entah kebetulan atau tidak, agaknya sedang memberi batu bara kesempatan yang tidak datang dua kali.