SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Basis Rudal Iran di Hormuz Aktif Lagi, Klaim Trump...

Internasional

Basis Rudal Iran di Hormuz Aktif Lagi, Klaim Trump soal 'Lumpuh' Dipertanyakan

Intelijen AS menemukan Iran telah memulihkan akses ke 30 dari 33 lokasi misil di sekitar Selat Hormuz, mempermalukan klaim Trump dan Hegseth bahwa kemampuan militer Teheran sudah hancur.

AS Mengira Iran Lumpuh, Ternyata Basis Rudal Teheran Sudah Aktif Lagi

Tiga puluh dari 33. Angka yang agaknya membuat sebagian pejabat di Washington tidak nyaman: jumlah lokasi misil Iran di sekitar Selat Hormuz yang kini kembali beroperasi, menurut penilaian intelijen AS yang dilaporkan The Telegraph pekan ini.

Bukan angka kecil.

Teheran juga disebut masih menggenggam sekitar 70 persen stok misil dan peluncur bergerak yang dimilikinya sebelum perang meletus. The New York Times, mengutip sumber intelijen terpisah, menambahkan bahwa sekitar 90 persen fasilitas penyimpanan bawah tanah dan lokasi peluncuran Iran kini dianggap "sebagian atau sepenuhnya operasional."

Angka-angka itu langsung berbenturan dengan narasi yang selama ini dibangun Washington. Bulan lalu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dengan percaya diri menyatakan Operation Epic Fury, kampanye udara gabungan AS-Israel yang dimulai sejak Februari, telah membuat Iran "tidak efektif untuk bertempur selama bertahun-tahun ke depan." Trump pun berulang kali mengklaim kemampuan militer Teheran sudah hancur. Temuan intelijen ini, jujur saja, membuat klaim-klaim itu terasa prematur.

Persenjataan Iran yang bertahan mencakup misil balistik dengan jangkauan yang cukup untuk menyasar negara-negara tetangga, plus sejumlah misil jelajah jarak pendek. Teheran juga terbukti cerdik dalam manuver: peluncur misil bergerak dipindahkan secara aktif ke lokasi-lokasi baru untuk menghindari bidikan serangan udara. Ini bukan pertahanan pasif. Ini adaptasi taktis.

Dampaknya buat jalur pelayaran jelas: Iran masih punya kapabilitas untuk mengancam kapal-kapal komersial dan armada Angkatan Laut AS di Teluk Persia. Selat Hormuz bukan sekadar choke point militer. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya.

Lebih dari sebulan setelah gencatan senjata diberlakukan, negosiasi jalan di tempat. Iran justru bergerak memperluas cengkeramannya. Kesepakatan pengiriman minyak dan gas alam cair telah diraih bersama Irak dan Pakistan. Seorang pejabat Garda Revolusi Iran (IRGC), dikutip kantor berita Fars, menyebut Teheran kini mendefinisikan ulang kawasan Selat Hormuz sebagai zona yang membentang dari kota pesisir Jask di timur hingga Pulau Siri di barat. Perluasan definisi unilateral seperti ini bukan sekadar retorika.

Di sisi AS, ada masalah lain yang mulai menggeliat. Stok amunisi penting menipis: misil jelajah Tomahawk, pencegat Patriot, hingga ATACMS dan Precision Strike ikut terkuras selama kampanye. Lockheed Martin memperingatkan bahwa pengisian ulang bisa memakan waktu bertahun-tahun, tersangkut keterbatasan kapasitas produksi dan rantai pasok yang belum pulih.

Tekanan itu merambat ke sekutu-sekutu Eropa. Mereka khawatir amunisi yang sudah dibeli dari AS atas nama Ukraina tak akan dikirim karena Pentagon perlu mengisi kembali gudangnya sendiri.

Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, bersaksi di hadapan subkomite anggaran DPR bahwa AS masih memiliki "amunisi yang cukup untuk tugas yang harus dilakukan saat ini." Juru bicara Pentagon Sean Parnell menimpali bahwa militer AS tetap memiliki "persenjataan mendalam" untuk melindungi kepentingan nasional.

Pernyataan yang meyakinkan. Entah kebetulan atau tidak, keduanya tidak menyebut angka spesifik.

Yang tersisa adalah pertanyaan yang lebih mendasar buat pasar minyak dan pelaku bisnis yang bergantung pada Hormuz: kalau Iran tidak selumpuh yang diklaim, seberapa jauh gencatan senjata ini bisa bertahan?