MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Baru IPO, WBSA Langsung Masuk Radar HSC: OJK Bilan...

Finansial

Baru IPO, WBSA Langsung Masuk Radar HSC: OJK Bilang Bukan Pelanggaran

Saham PT BSA Logistic Tbk (WBSA) langsung dicap high shareholding concentration (HSC) begitu melantai di bursa. OJK menegaskan ini bukan sanksi, tapi sinyal waspada buat investor.

Baru Listing, Saham BSA Logistic (WBSA) Masuk Kategori HSC, Ini Kata OJK

Belum genap sebulan melantai, saham PT BSA Logistic Tbk (WBSA) sudah punya label yang bikin investor dua kali mikir sebelum masuk.

Regulator pasar modal menetapkan WBSA masuk kategori high shareholding concentration (HSC), istilah teknis untuk emiten yang kepemilikan sahamnya terkonsentrasi di segelintir tangan. Angkanya tidak main-main: 95,82% dari total saham WBSA, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat, dikuasai oleh pihak-pihak dengan konsentrasi tinggi. Free float yang beredar di pasar? Tipis sekali.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjelaskan bahwa status HSC baru dihitung setelah proses IPO rampung. Saat penawaran umum berlangsung pada 10 April 2026, WBSA diklaim telah memenuhi semua ketentuan yang berlaku, termasuk syarat minimum free float 15%. Lewat IPO itu, WBSA melepas 1,8 miliar saham atau setara 20,75% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dan berhasil mengantongi dana segar Rp 302,4 miliar.

"Setelah IPO baru dilakukan penghitungan, karena IPO-nya mengikuti ketentuan. Jadi free floatnya cukup, tapi kemudian kita lihat ternyata ada konsentrasi kepemilikan atau tidak," kata Hasan di gedung BEI, Rabu (13/5/2026).

Secara teknis, tidak ada aturan yang dilanggar. Tapi regulatornya sendiri yang menyebut saham ini "sangat rentan atas volatilitas", framing yang, entah kebetulan atau tidak, langsung disambut pasar dengan reaksi keras sejak hari-hari pertama perdagangan.

Sejak melantai, WBSA beberapa kali terseret ke radar unusual market activity (UMA), berujung suspensi perdagangan. Sempat dibekukan, saham ini baru bisa kembali diperdagangkan pada 5 Mei lalu. Pola semacam ini bukan asing bagi emiten dengan free float mepet dan basis pemegang saham yang sempit. Volatilitas ekstrem, likuiditas tipis, harga yang tidak mencerminkan fundamental, risiko itu nyata dan melekat.

"Kenapa tidak disanksi? Karena tidak melanggar. Tapi kita ingin itu menjadi informasi yang dipegang oleh para investor, setidaknya menjadi early warning," tegas Hasan.

WBSA sendiri adalah emiten pertama yang mencatatkan saham di BEI sepanjang 2026. Posisi bersejarah. Tapi catatan yang menyertainya kurang sedap: label HSC di usia listing yang masih belia, plus rekam jejak suspensi yang sudah berulang.

Bagi investor ritel yang sudah terlanjur masuk, kondisi ini patut dicermati serius. Saham dengan konsentrasi kepemilikan setinggi WBSA ibarat pedang bermata dua: kalau pemegang besar memutuskan bergerak, pasar bisa bergetar tanpa banyak yang bisa dilakukan oleh pemegang saham minoritas. Pertanyaannya, berapa lama situasi ini dibiarkan tanpa ada langkah lanjutan dari regulator?