SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bank BJB Cetak Laba Rp410 Miliar di Q1 2026, Dedi...

Finansial

Bank BJB Cetak Laba Rp410 Miliar di Q1 2026, Dedi Mulyadi Desak Reformasi Kredit ASN dan Sistem Upah

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk membukukan laba bersih Rp410 miliar di triwulan I 2026, tumbuh 13,3 persen secara kuartalan. Di momen HUT ke-65, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi justru melempar tantangan soal reformasi bunga kredit ASN dan sistem pengupahan internal.

bank bjb bukukan laba bersih Rp410 miliar di triwulan I 2026

Laba bersih PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) di triwulan I 2026 menembus Rp410 miliar, tumbuh 13,3 persen secara kuartalan dan 3 persen year-on-year. Angka yang cukup untuk membuat manajemen optimistis, meski pertumbuhan tahunannya tergolong moderat untuk ukuran bank daerah dengan basis nasabah sebesar BJBR.

Penopang utamanya adalah Net Interest Income konsolidasi yang mencapai Rp2,05 triliun, naik 13 persen yoy. Optimalisasi komposisi portofolio kredit serta disiplin pengelolaan biaya dana menjadi dua faktor paling berperan. Total kredit dan pembiayaan konsolidasi tercatat Rp141,2 triliun, sementara dana pihak ketiga tumbuh ke Rp159,9 triliun, naik 3,9 persen yoy. Loan to Deposit Ratio terjaga di 83,5 persen.

"Di tengah dinamika industri perbankan dan kondisi ekonomi yang berkembang, bank bjb berupaya menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dengan tetap memperhatikan kualitas aset, likuiditas, serta kebutuhan nasabah dan pemangku kepentingan," ujar Direktur Utama BJBR Ayi Subarna dalam keterangan resminya.

Sisi digital mulai menunjukkan taring. Pengguna aplikasi DIGI bank bjb sudah menyentuh 1,87 juta per Maret 2026, dengan fee based income dari kanal elektronik sebesar Rp115,7 miliar. Produk bjb KGB Pisan, segmen pinjaman digital khusus ASN, melesat tajam: outstanding kredit tumbuh 154,1 persen yoy menjadi Rp159,8 miliar dengan jumlah rekening 9.702. Kecil secara nominal, tapi bisa jadi sinyal awal dari pasar ASN yang belum sepenuhnya digarap.

Bersamaan dengan rilis kinerja ini, BJBR merayakan ulang tahun ke-65. Dan di sinilah momen yang agaknya lebih menarik dari sekadar laporan keuangan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, selaku representasi pemegang saham pengendali, menyampaikan sejumlah catatan yang nadanya lebih seperti instruksi daripada sambutan seremonial.

Dedi secara terbuka meminta bank bjb mempertimbangkan penurunan suku bunga kredit bagi ASN yang mendekati masa pensiun, khususnya mereka yang sudah puluhan tahun menjadi nasabah disiplin tanpa pernah menunggak. "Misalnya ASN selama 30 tahun menjadi peminjam setia dan tidak pernah telat bayar. Ketika menjelang pensiun tiga atau empat tahun, bisa tidak suku bunganya diturunkan sebagai bentuk apresiasi," tegasnya.

Permintaan itu tidak datang dari ruang hampa. Segmen ASN memang selama ini menjadi tulang punggung kredit bank-bank daerah, termasuk BJBR. Justru karena itu, skema bunga lebih kompetitif jelang pensiun adalah pisau bermata dua: margin tergerus di satu ujung, loyalitas nasabah menguat di ujung lain.

Dedi juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai disparitas penghasilan di internal perusahaan. Terlalu condong ke pejabat struktural, kurang menghargai pegawai operasional yang produktif. "Kalau ingin menjadi bank modern, disparitasnya harus dihilangkan. Berani memangkas gaji pejabat, kemudian meningkatkan kesejahteraan pegawai yang bekerja loyal dan produktif," katanya. Pernyataan yang langsung menyentuh isu budaya kerja, titik lemah klasik bank-bank pembangunan daerah.

Porsi pembiayaan berkelanjutan BJBR hingga triwulan I 2026 tercatat Rp14,2 triliun, dengan sustainable bond sebesar Rp1,9 triliun. Basis ekonomi Jawa Barat dan Banten yang masih tumbuh positif sebagai kontributor utama PDB nasional memberi bantalan bisnis yang tidak dimiliki semua bank daerah. Pertanyaannya: apakah tekanan dari pemegang saham pengendali soal reformasi internal akan menjadi katalis bagi manajemen, atau justru distraksi di tengah agenda digitalisasi yang belum tuntas?