RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Banjir Ekstrem Hantam Jepang Tengah, 380 Ribu Warg...

Internasional

Banjir Ekstrem Hantam Jepang Tengah, 380 Ribu Warga Diminta Mengungsi

Hujan lebat memecahkan rekor historis di Ishikawa, Toyama, dan Fukui. JMA mengeluarkan peringatan level tertinggi seiring ancaman banjir dan tanah longsor yang terus meluas hingga akhir pekan.

Jepang keluarkan peringatan khusus hujan lebat di Fukui

Curah hujan 300 milimeter dalam 12 jam. Angka itu bukan anomali statistik, bencana sedang berlangsung.

Sejak Kamis (27/8/2026), kawasan Hokuriku di Jepang tengah dihajar hujan ekstrem yang memaksa Japan Meteorological Agency (JMA) mengeluarkan peringatan hujan lebat level 5, tingkatan tertinggi dalam sistem peringatan bencana nasional Jepang. Wilayah terdampak mencakup Prefektur Ishikawa, Toyama, dan meluas ke Prefektur Fukui pada akhir pekan. Lebih dari 380.000 warga di Ishikawa dan Toyama mendapat imbauan untuk meninggalkan rumah mereka.

Level 5 bukan sekadar angka administratif. Dalam sistem JMA, peringatan itu diterbitkan ketika bencana dianggap sudah sangat mungkin terjadi, atau bahkan sudah berlangsung. Wilayah yang masuk daftar peringatan tertinggi ini mencakup Himi di Toyama, serta Hakui, Shika, Hodatsushimizu, dan Nakanoto di Ishikawa. Sekitar 180.000 warga di lima munisipalitas tersebut diminta segera bertindak.

Data curah hujan yang tercatat memang tidak main-main. Dalam 12 jam hingga pukul 07.20 waktu setempat pada Kamis pagi, Himi dan Hakui mencatat lebih dari 300 milimeter hujan, sementara Hodatsushimizu melampaui 200 milimeter. JMA menyatakan angka-angka itu memecahkan rekor historis di masing-masing wilayah.

Dampak di lapangan terasa cepat. Sungai-sungai meluap, ratusan rumah terendam, dan 270 unit rumah di tiga munisipalitas Ishikawa terisolasi total. Lebih dari 1.000 rumah di Toyama dan Ishikawa kehilangan listrik berdasarkan data Hokuriku Electric Power Co. NHK menyiarkan rekaman tim penyelamat yang menggunakan perahu karet dan berjalan menembus genangan setinggi lutut untuk menjangkau warga yang terjebak di Himi. Kendaraan-kendaraan mogok ditinggalkan begitu saja di jalanan yang telah berubah jadi sungai.

Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengonfirmasi sejumlah sungai di Ishikawa dan Toyama meluap dan menyebabkan permukiman terendam. Pemerintah Prefektur Ishikawa, per Kamis sore, belum menerima laporan korban jiwa maupun cedera serius. Agaknya lebih mencerminkan keberhasilan evakuasi dini ketimbang minimnya risiko.

Hujan tak berhenti di situ. Sabtu (29/8/2026) malam hingga Minggu dini hari (30/8/2026), awan hujan bergerak ke Prefektur Fukui. JMA menerbitkan peringatan darurat level 5 untuk Kota Fukui, Ono, dan Katsuyama. Dalam satu jam hingga pukul 02.00 dini hari, curah hujan mencapai 57,5 milimeter di Miyama dan 51 milimeter di Harue, Kota Sakai. Dalam 24 jam, Katsuyama mencatat 282 milimeter dan Harue 279 milimeter. Menurut JMA, angka-angka itu melampaui rata-rata curah hujan bulanan Agustus dan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Sungai Takedagawa yang membelah Fukui mendapat peringatan awas banjir tingkat 4.

Front cuaca yang memicu semua ini terbentang dari Laut Jepang ke arah timur, didorong pertemuan massa udara lembap dengan udara dingin dan palung tekanan rendah. JMA memperkirakan hujan bertahan dan bergeser ke utara, menghantam kawasan Hokuriku dan Tohoku setidaknya hingga Senin (31/8/2026). Proyeksi curah hujan 24 jam untuk Hokuriku mencapai 120 milimeter, sementara Niigata, kawasan Kinki, dan Chugoku masing-masing diperkirakan menerima hingga 80 milimeter. Peringatan tanah longsor tingkat 3 sudah berlaku untuk sebagian Toyama.

Rangkaian kejadian ini bukan yang pertama tahun ini. Awal Agustus lalu, Prefektur Chiba di timur Tokyo juga dihajar banjir setelah JMA menerbitkan peringatan level 5 di sana. Hasilnya: 13 orang tewas dan sekitar 2.500 kendaraan ditinggalkan di jalanan yang terendam. Pola yang berulang ini, entah kebetulan atau tidak, mulai membentuk narasi lain tentang bagaimana infrastruktur dan sistem respons Jepang menghadapi intensitas cuaca yang terus meningkat. Pertanyaannya, sampai kapan sistem itu cukup?