Lima puluh satu orang sudah dikonfirmasi tewas, lebih dari satu juta jiwa terisolasi, dan hitungannya belum berhenti. Begitulah gambaran Bangladesh per 12 Juli lalu ketika banjir musiman kali ini membuktikan dirinya lebih ganas dari biasanya.
Kementerian Manajemen Bencana Bangladesh mencatat sekitar 1,02 juta orang kini terkepung banjir yang merendam 7 dari 64 distrik di negara itu. Total keluarga terdampak sudah menyentuh 267.918, angka yang terus bergerak naik seiring laporan dari lapangan yang belum sepenuhnya masuk. Pemerintah bergerak cepat: personel militer dan penjaga perbatasan dikerahkan menggunakan perahu untuk menyalurkan makanan, air minum, dan kebutuhan pokok ke wilayah yang tidak bisa lagi dijangkau lewat darat. Sekitar 4.000 tempat penampungan dibuka, menampung hampir 50.000 warga yang mengungsi.
Wilayah paling parah dihajar? Distrik Chattogram di Bangladesh tenggara. Dari total korban jiwa, 29 orang meninggal bukan karena tenggelam, melainkan tertimbun longsor. Dua orang lainnya masih berstatus hilang. Komisioner Divisi Chattogram Mohammed Ziauddin mengakui operasi evakuasi masih berlangsung di sejumlah titik yang sulit dijangkau.
Kondisi di lapangan, jujur saja, lebih rumit dari sekadar soal evakuasi. Banyak keluarga yang sudah berhasil mengungsi pun tidak otomatis aman karena rumah dan dapur mereka terendam, sehingga tidak ada cara untuk memasak atau menyimpan makanan. Bahkan urusan pemakaman korban jadi masalah tersendiri karena area pemakaman setempat juga tergenang. Satu keluarga terpaksa memakamkan anggota keluarganya bernama Mohammed Forkan di lahan milik pemerintah setelah tidak menemukan lokasi pemakaman yang layak.
Longsor juga menghantam kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar pekan lalu, merenggut sedikitnya 15 nyawa. Lebih dari 1,2 juta pengungsi tinggal di lereng-lereng bukit yang telah kehilangan sebagian besar tutupan pohonnya akibat penebangan. Risiko longsor di sana bukan rahasia. Tapi setiap kali musim hujan tiba, tragedi yang sama berulang.
Banjir dan longsor memang bukan barang baru bagi Bangladesh. Negara delta yang dilintasi ratusan sungai ini secara geografis sudah "dirancang" alam untuk kebanjiran. Yang berubah, kata para ilmuwan, bukan frekuensinya saja tapi intensitasnya. Perubahan iklim sedang menggeser kalkulasi itu secara brutal, membuat kejadian ekstrem datang lebih sering dan lebih dalam. Bak kalender yang makin sering disobek, siklus bencana di Bangladesh agaknya tidak punya niat untuk melambat.
Pusat Prakiraan dan Peringatan Banjir Bangladesh memperkirakan kondisi di wilayah tenggara mulai membaik dalam beberapa hari. Tapi itu baru satu bagian dari peta. "Monsun masih aktif di bagian timur laut dan utara Bangladesh, dan masih ada kemungkinan banjir kembali terjadi," kata Sarder Udoy Raihan, pejabat dari lembaga tersebut. Krisis ini, entah kebetulan atau tidak, selalu punya babak tambahan.