Hujan monsun menghantam Mumbai dengan brutalnya akhir pekan lalu, mencatatkan curah hujan 265,6 mm dalam 24 jam untuk wilayah selatan kota. Angka itu tertinggi untuk bulan Juli dalam setengah abad. Delapan orang tewas, sekolah ditutup, dan bandara sempat tak berfungsi.
Korban terbanyak jatuh di kawasan Mankhurd. Di sana, sebuah bangunan empat lantai ambruk pada Minggu (5/7) malam dan menimpa gubuk-gubuk di sekitarnya, menewaskan enam orang, lima di antaranya anak-anak. Empat korban berasal dari satu keluarga. Tim penyelamat masih menyisir reruntuhan, khawatir masih ada yang terjebak di bawah puing.
Dua korban lainnya tewas di titik berbeda, tertimpa ranting pohon yang tumbang akibat angin kencang. Seorang pengendara motor berusia 18 tahun. Seorang penjaga toko 63 tahun. Keduanya tidak sempat menghindar.
Wali Kota Mumbai Ritu Tawde menyebut bangunan yang ambruk itu sudah reyot sebelum kejadian. Ia mengimbau warga agar tidak keluar rumah jika tidak mendesak, dan memperingatkan risiko pohon tumbang yang masih mengancam di sejumlah titik kota.
Kecepatan angin di beberapa wilayah sempat menembus 70-75 km per jam. Operasional Bandara Internasional Mumbai pun terdampak: landasan pacu ditutup selama satu jam, empat penerbangan dibatalkan, 13 penerbangan kedatangan dialihkan, dan hampir 90 persen keberangkatan tertunda. Bukan hari yang menyenangkan bagi siapa pun yang terjebak di terminal.
Badan Meteorologi India sempat mengeluarkan siaga merah untuk Mumbai pada Senin, sebelum diturunkan ke peringatan oranye dengan prakiraan hujan lebat masih akan berlanjut. Seluruh sekolah dan perguruan tinggi diliburkan. Jalan-jalan utama terendam, dan warga memilih, atau terpaksa, bertahan di dalam rumah.
Yang agaknya lebih ironis: hujan ini turun setelah Mumbai baru saja melewati gelombang panas yang berlangsung berminggu-minggu. Bulan lalu, otoritas kota bahkan memberlakukan pembatasan penggunaan air dan memangkas pasokan ke kolam renang serta lokasi konstruksi karena krisis ketersediaan air. Kini kota yang sama kewalahan menangani banjir.
Perubahan iklim memang tengah mengacak-acak pola musim di India. Monsun yang secara historis menjadi andalan ratusan juta petani kini datang dengan intensitas yang sulit diprediksi. Fenomena El Nino tahun ini sempat memicu kekhawatiran soal curah hujan yang lebih rendah dari normal, tapi yang terjadi di Mumbai justru sebaliknya. Curah hujan rekor. Dalam semalam.
Tekanan struktural kota ini juga tidak ringan. Ekspansi infrastruktur pusat data yang tumbuh pesat di Mumbai membutuhkan sistem pendingin skala besar, yang pada gilirannya akan memperburuk tekanan terhadap sumber daya air. Kota dengan lebih dari 20 juta penduduk ini, kalau data ini bisa dipercaya, sedang berpacu melawan batas kapasitas yang tidak kasat mata.