Sabtu sore di Washington D.C. berubah mencekam setelah sekitar 20 tembakan menggelegar di dekat kompleks Gedung Putih, tepat di persimpangan Jalan 17 dan Pennsylvania Avenue NW, sesaat setelah pukul 18.00 Waktu Bagian Timur.
Kronologinya terbilang brutal dalam kesederhanaannya. Seorang pria berjalan mendekat ke pos penjagaan luar Gedung Putih, lalu langsung melepaskan tembakan ke arah agen Secret Service yang sedang berjaga. Para agen membalas. Baku tembak berlangsung cukup intens sebelum situasi akhirnya bisa dinetralisir.
Dua orang terluka. Sang terduga pelaku kini dirawat dalam kondisi kritis, sementara seorang warga sipil yang kebetulan ada di lokasi menderita luka serius. Tidak ada satu pun agen Secret Service yang dilaporkan cidera.
Arah letusan diidentifikasi berasal dari sisi kompleks yang berbatasan langsung dengan Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower. Juru bicara Secret Service Anthony Guglielmi menyatakan pihaknya langsung bergerak mengumpulkan fakta dari personel di lapangan begitu laporan masuk. Direktur FBI Kash Patel mengonfirmasi lewat media sosial bahwa timnya sudah diterjunkan ke lokasi untuk mendukung operasi Secret Service.
Presiden Donald Trump, agaknya, masih berada di dalam kompleks hingga setidaknya pukul 16.00 sore itu, berdasarkan konfirmasi juru bicara kepresidenan Steven Cheung. Lapisan pengamanan internal membuat Trump dilaporkan aman. Tak ada agen yang kena.
Kepanikan terasa langsung di lapangan. Emma Nicholson, produser CBS News yang sedang bertugas di area Gedung Putih, mengisahkan bahwa timnya tengah mempersiapkan siaran berita akhir pekan ketika rentetan letusan tiba-tiba terdengar. Spontan, mereka tiarap ke tanah sebelum dievakuasi petugas ke ruangan aman di dalam gedung.
Insiden ini datang di waktu yang tidak ideal bagi citra keamanan kawasan tersebut. Kurang dari sebulan sebelumnya, seorang pria bersenjata dilaporkan berhasil menembus pos pemeriksaan luar sebuah hotel di Washington D.C. ketika acara makan malam tahunan koresponden Gedung Putih sedang berlangsung. Dua kejadian dalam satu bulan di jantung ibu kota, bisa jadi, akan memaksa otoritas keamanan domestik AS mengevaluasi ulang protokol yang selama ini dianggap sudah cukup ketat, kalau data kejadian ini bisa dijadikan pegangan.
Motif pelaku hingga berita ini diturunkan masih dalam penyelidikan.