SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Badan Ekspor Komoditas Bikin IHSG Ambruk, Sektor M...

Ekonomi

Badan Ekspor Komoditas Bikin IHSG Ambruk, Sektor Material Dihajar 7%

Spekulasi pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis memukul pasar saham domestik, dengan IHSG terkoreksi lebih dari 3% dan sektor material dasar menjadi yang paling parah dihantam.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan keterangan dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.

IHSG membuka Selasa (19/5/2026) di zona hijau. Lalu semuanya berbalik.

Spekulasi soal rencana pemerintah membentuk badan khusus pengelola ekspor komoditas strategis menyebar cepat di kalangan pelaku pasar, memicu aksi jual yang menghajar hampir seluruh sektor. Paling keras kena: saham-saham berbasis komoditas. Pada penutupan sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan sudah anjlok 202,97 poin atau 3,08% ke level 6.396. Sesi II membawa tekanan lebih dalam, penurunan indeks sempat menyentuh 3,3%.

Bukan kebetulan IHSG sekarat di titik ini. Indeks sudah tergerus lebih dari 16,3% dalam sebulan dan terkoreksi 8,2% hanya dalam lima hari perdagangan terakhir. Tekanan hari ini bak bensin disiram ke bara.

Rumor yang beredar menyebut pemerintah tengah mengkaji skema di mana eksportir komoditas strategis tidak lagi bertransaksi langsung dengan pembeli asing, melainkan wajib melalui badan yang ditunjuk negara. Lembaga ini, kata narasi yang berkembang, dirancang untuk membendung praktik under invoicing export, yakni pelaporan nilai ekspor di bawah harga sebenarnya. Selama ini praktik itu disebut menggerus penerimaan negara dari pajak dan royalti, sekaligus mempersulit pemantauan arus devisa.

Dua opsi kelembagaan disebut tengah dipertimbangkan: badan di bawah BUMN, atau badan di bawah Danantara. Keduanya belum dikonfirmasi secara resmi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku buta soal rencana ini. "Wah saya enggak tahu, nanti Presiden yang ngumumin itu," kata Purbaya saat ditemui di kantornya, Selasa (19/5/2026). Pernyataan itu agaknya justru memperkeruh situasi. Pasar membacanya bukan sebagai penampikan, melainkan sebagai konfirmasi bahwa sesuatu memang sedang dimasak di dapur kebijakan.

Sektor material dasar menanggung beban terberat. Ambles 7,26%. Sektor energi menyusul dengan penurunan 6,47%, sementara transportasi tergerus 5,94%. Perlu dicatat bahwa sektor material sudah tertekan tiga hari berturut-turut sebelum hari ini, jadi koreksi Selasa ini bukan serangan tiba-tiba.

Barisan saham batu bara dihajar habis: AADI, ADMR, BUMI, ITMG, dan BYAN semuanya kena selling pressure. Di segmen mineral, MDKA, INCO, TINS, ARCI, dan EMAS turut terseret. Sumber asli juga menyebut INDY dan HRTA dalam deretan yang tertekan. Sektor perkebunan tidak lolos, dengan saham-saham CPO seperti SMAR, AALI, AGRO, LSIP, dan SIMP ikut amblas.

Yang bikin situasi ini ironis: semua ini terjadi saat harga komoditas global justru naik. Kejatuhan saham komoditas hari ini murni didorong sentimen kebijakan domestik, bukan fundamentals. Pasar tidak bereaksi terhadap realitas. Ia bereaksi terhadap ketidakpastian.

Selama pengumuman resmi belum keluar, spekulasi akan terus mengisi kekosongan itu.