Sepanjang 10 Muharram 1448 Hijriah, nama Husain bin Ali kembali bergema dari penjuru dunia. Ribuan umat Muslim Syiah turun ke jalan di Teheran untuk mengikuti ritual berkabung menjelang Asyura, hari yang oleh komunitas Syiah diperingati sebagai salah satu momen paling sakral dalam kalender Islam. Ini tentang gugurnya cucu Rasulullah SAW di padang Karbala, lebih dari 14 abad lalu.
Karbala sendiri, kota di Irak yang menjadi lokus sejarah tragedi 61 Hijriah, kembali dipadati peziarah dari seantero negeri. Ribuan warga berpakaian hitam berjalan dalam keheningan dan isak tangis. Pemandangan yang tiap tahun terulang, tapi tidak pernah kehilangan bobotnya.
Di level politik, peringatan tahun ini turut diwarnai pernyataan keras dari pejabat Iran. Araghchi, dalam pidatonya di hari Asyura, melempar kalimat yang agaknya tidak hanya ditujukan untuk konsumsi domestik: "Kami tidak akan memaafkan dan tidak akan melupakan." Kalimat itu, dengan kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih membara, sulit dibaca sebatas retorika seremonial. Setidaknya, begitu kesan yang tertangkap.
Jauh dari Teheran dan Karbala. Di kawasan Gerlong Girang, Kota Bandung, suasana Malam Asyuro justru terasa lebih hangat dari sekadar berkabung. Kabuyutan Geger Kalong menggelar puncak peringatan pada Kamis malam (25/6/2026), dengan pendekatan yang khas Indonesia: tausiyah, doa bersama, dan tradisi tumpengan bubur syuro merah putih.
Abah Yusuf Bachtiar, yang memimpin pemaparan sejarah Karbala malam itu, menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar catatan yang dibuka tiap Muharram lalu disimpan kembali. "Peristiwa Karbala bukan hanya catatan sejarah yang dikenang setiap Muharram, tetapi juga pelajaran tentang keberanian mempertahankan kebenaran dan keadilan. Keteladanan Imam Husain hendaknya menjadi inspirasi bagi umat untuk terus meneguhkan keimanan, menjaga akhlak, dan memperkuat persaudaraan," katanya kepada jamaah yang hadir.
Rangkaian acara ditutup dengan shalat Magrib berjamaah, lalu tradisi makan bersama yang menjadi simbol ukhuwah. Pesan Karbala, rupanya, terbukti menembus batas mazhab dan geografi, sampai ke bubur merah putih di Bandung.
Apa yang membuat Asyura tetap relevan setelah lebih dari satu milenium? Bisa jadi karena narasi Husain bukan soal syahid semata, tapi soal pilihan untuk tidak tunduk pada ketidakadilan. Pertanyaan yang tidak pernah benar-benar usang.