Seribu lima ratus orang hadir. Bukan konser, bukan pameran otomotif. Ini peluncuran laptop.
ASUS rupanya tidak main-main ketika menyebut ExpertBook Ultra sebagai "The Flagship of the Industry." Klaim itu mereka buktikan bukan hanya lewat spesifikasi di atas kertas, tapi juga lewat skala launch event yang, setidaknya menurut catatan mereka sendiri, belum pernah ada sebelumnya untuk kategori laptop di Indonesia.
Acaranya menarik perhatian lintas kalangan, dari profesional korporat sampai pelaku industri teknologi. ASUS agaknya ingin mengirim pesan yang lebih besar dari sekadar "kami punya produk baru." Ini lebih terasa seperti deklarasi posisi.
Laptop yang diluncurkan, ASUS ExpertBook Ultra B9406, memang dirancang untuk segmen yang tidak bisa dikompromikan soal bobot dan performa sekaligus. Profesional yang hidupnya berputar di antara ruang rapat, lounge bandara, dan meja kerja butuh mesin yang ringan tapi tidak ompong di beban kerja berat. ExpertBook Ultra mencoba mengisi celah itu.
Bobot? Ringan untuk kelasnya. Material dan finishing langsung bicara soal posisi flagship-nya sejak pertama kali dipegang, bukan dari label di kemasannya.
Yang membedakan dari generasi sebelumnya adalah integrasi kemampuan AI ke dalam alur kerja sehari-hari. Bukan sekadar stiker "AI-powered" di kotak kemasan. Arsitektur di dalamnya memang dirancang untuk menangani workload berbasis kecerdasan buatan yang kini makin lazim di lingkungan kerja modern: dari pemrosesan dokumen, analisis data, sampai kolaborasi real-time yang makin bergantung pada inferensi lokal.
Transformasi digital di level korporasi Indonesia tengah berakselerasi. Tajam. Permintaan terhadap perangkat yang bisa mengikuti ritme kerja berbasis AI tumbuh cepat, dan ASUS membaca momentum ini lebih awal dari banyak pesaingnya.
Apakah pasar akan merespons sepadan dengan besarnya event peluncurannya? Belum ada jawaban pasti. Tapi satu hal sulit dibantah: ExpertBook Ultra tidak masuk pasar dengan berbisik.