Lima juta unit. Segitu yang berhasil dikirimkan Asus sepanjang semester pertama 2026, padahal target awal mereka 10 juta unit untuk setahun penuh. Rekor terburuk sejak perusahaan ini memisahkan diri pada 2008.
Laporan firma riset Digitimes mengonfirmasi apa yang sudah lama dikhawatirkan pelaku industri: krisis motherboard PC konsumen global kini di titik paling suram dalam satu dekade. Empat pabrikan besar asal Taiwan, Asus, MSI, Gigabyte, dan ASRock, semuanya memangkas proyeksi pengiriman untuk tahun fiskal 2026. Bukan koreksi kecil. Revisi besar-besaran yang mencerminkan betapa runyamnya kondisi pasar saat ini.
Penyebabnya bukan misteri. AI boom yang mengguncang industri semikonduktor global telah menyedot sebagian besar kapasitas produksi memori ke segmen server. Produsen chip lebih doyan melayani data center ketimbang konsumen ritel. Hasilnya? Harga RAM untuk PC melonjak, dan stok motherboard menumpuk di gudang karena tidak ada yang mau beli.
MSI nasibnya tidak jauh berbeda. Target awal 11 juta unit motherboard untuk pasar global kini direvisi jadi 8,4 juta unit. Selisih 2,6 juta unit bukan angka main-main, terutama kalau dihitung dari sisi margin dan kapasitas produksi yang sudah terlanjur disiapkan.
Kondisi ekonomi global yang belum pulih benar memperparah situasi. Daya beli konsumen tergerus. Merakit PC baru, yang selama ini jadi hobi jutaan orang, kini terasa terlalu mahal untuk dieksekusi. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga: harga RAM naik, dompet tipis, animo rakit PC ikut surut.
Pertanyaannya, berapa lama ketidakseimbangan ini bertahan?
Yang bikin skenario ini agaknya lebih meresahkan adalah dampak jangka panjangnya. Kalau produsen sudah memangkas jalur produksi hari ini, mereka tidak akan bisa seketika menaikkan kapasitas saat permintaan kembali. Begitu krisis RAM mereda dan harga memori mulai normal lagi, gelombang permintaan motherboard dipastikan meledak. Tapi siapa yang bisa memenuhinya dengan cepat? Produsen yang sudah terlanjur efisiensi besar-besaran?
Skenario kelangkaan susulan itu, dan lonjakan harga komponen yang menyertainya, bisa jadi lebih menyakitkan dari krisis yang sedang berlangsung sekarang. Setidaknya itu yang dikuatirkan para analis yang mengikuti laporan Digitimes.