KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  AS Ultimatum Mitra AI: Pilih Washington atau Beiji...

Internasional

AS Ultimatum Mitra AI: Pilih Washington atau Beijing

Washington menyiapkan surat ultimatum untuk 35 negara mitra teknologi agar meninggalkan inisiatif AI pimpinan China, atau kehilangan tempat di koalisi Pax Silica.

AS Minta Negara Pilih Posisi dalam Persaingan AI dengan China

Draf surat internal Departemen Luar Negeri AS yang ditinjau Reuters pada Sabtu (15/8/2026) isinya tegas: negara mitra tidak bisa bermain di dua lapangan sekaligus.

Surat itu ditujukan kepada 35 negara penandatangan "AI Opportunity Statement," termasuk anggota Pax Silica dan negara-negara yang menyatakan minat memperkuat kerja sama AI dengan Washington. Pesannya singkat dan keras. "Menjadi bagian dari semuanya berarti tidak menjadi bagian dari apa pun. Penandatanganan Deklarasi Pax Silica bukan sekadar keanggotaan, melainkan sebuah komitmen," tulis surat itu. Ada satu kalimat lagi yang tak kalah blak-blakan: "Keanggotaan tidak dapat berjalan bersamaan dengan partisipasi dalam inisiatif serupa yang bertentangan dengan kepentingan kami."

Pax Silica diluncurkan AS tahun lalu dengan satu tujuan utama: memperkuat rantai pasok teknologi strategis, mulai dari model AI, semikonduktor, hingga mineral kritis, sebagai respons atas intensifikasi persaingan teknologi dengan Beijing. Jepang, Australia, Korea Selatan, dan Kazakhstan sudah bergabung. Tapi justru Kazakhstan yang kini jadi sorotan.

Negara Asia Tengah itu satu-satunya yang diketahui sejauh ini bergabung dengan dua inisiatif sekaligus: Pax Silica dan inisiatif AI pimpinan China. Washington sendiri pada Juni lalu menyebut Kazakhstan sebagai negara pertama di kawasan Asia Tengah yang masuk Pax Silica. Nilainya jelas, cadangan mineral kritisnya diincar industri semikonduktor global. Kedutaan Besar Kazakhstan di Washington memilih diam.

Langkah AS ini punya konteks yang tidak bisa diabaikan. Pada Juli lalu, Xi Jinping meluncurkan World Artificial Intelligence Cooperation Organization, kendaraan baru Beijing untuk menandingi arsitektur teknologi global yang selama ini dikuasai Washington. Bagi Beijing, organisasi itu diposisikan sebagai wadah kolaborasi AI multilateral, sekaligus jalur distribusi model AI open-weight buatan China yang belakangan kian mengancam posisi OpenAI dan Anthropic. Entah kebetulan atau tidak, peluncurannya tepat saat tekanan AS terhadap jaringan mitranya makin keras.

Reaksi Beijing bisa ditebak. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menolak pendekatan yang mengaitkan kerja sama teknologi dengan persaingan geopolitik. "Langkah seperti itu hanya akan menghambat kemajuan AI global dan tidak menguntungkan siapa pun," kata jubir tersebut. Kalimat yang terdengar familiar. Agaknya tidak terlalu dihiraukan Washington kali ini.

Seorang pejabat AS yang mengetahui isi surat itu berbicara lebih lugas. "Sulit melihat bagaimana sebuah negara dapat secara kredibel memosisikan dirinya sebagai mitra tepercaya dalam satu ekosistem teknologi, sementara pada saat yang sama bergabung dengan inisiatif yang dirancang China untuk mendorong visi AI yang bersaing," ungkap pejabat tersebut.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang diperebutkan? Bukan chatbot. Arena sesungguhnya ada di penguasaan semikonduktor, mineral kritis, infrastruktur komputasi, kontrol ekspor, dan jaringan negara mitra. China menguasai porsi besar rantai pasok mineral yang digunakan industri teknologi global, dan itu bukan angka yang kecil. AS merespons dengan mendorong diversifikasi pasokan dari sumber domestik dan sekutu, persis fungsi yang dirancang Pax Silica untuk dijalankan.

Belum dipastikan kapan surat itu resmi dikirim, atau apakah isinya masih akan berubah. Departemen Luar Negeri AS menolak berkomentar soal dokumen bocor tersebut. Tapi sinyal politiknya sudah cukup keras untuk dibaca: bagi Washington, era netralitas teknologi sudah berakhir.