SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  AS-Iran Saling Serang, Hormuz Membara dan Teluk Ik...

Internasional

AS-Iran Saling Serang, Hormuz Membara dan Teluk Ikut Tersengat

Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan kapal tanker di Selat Hormuz memicu rentetan serangan balasan yang kini menyeret Kuwait dan Bahrain ke pusaran konflik.

Ancaman Neraka dari Iran untuk Amerika

Selat Hormuz kembali jadi medan perang. Kali ini dampaknya merembet jauh ke daratan Teluk. Pesawat tempur Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika Serikat menghantam 10 target militer Iran di dalam dan sekitar Selat Hormuz, merespons serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak berbendera Panama, Kiku, yang tengah mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah.

CENTCOM merinci target yang diserang mencakup infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, hingga kemampuan penebar ranjau. Sebuah video buram berdurasi 35 detik yang direkam dari udara, memperlihatkan kilatan ledakan di sejumlah titik, diunggah CENTCOM lewat akun X-nya. Pendek dan blak-blakan.

Teheran tidak tinggal diam. IRGC melancarkan serangan balasan ke fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. "Garda Revolusi menghancurkan delapan fasilitas militer AS yang penting di pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan di pangkalan angkatan laut Armada Kelima di Pelabuhan Salman di Bahrain," kata IRGC dalam pernyataannya. "Setiap agresi musuh, apa pun dalihnya, bahkan terhadap target yang tidak signifikan, akan dibalas dengan menghancurkan," imbuh pernyataan Garda Revolusi.

Situasinya makin ruwet karena kedua pihak sama-sama mengklaim pihak lawan yang pertama melanggar gencatan senjata yang memang sudah genting sejak awal. Washington menuding Teheran yang memulai dengan menyerang kapal komersial. Teheran balik menuding AS melakukan "serangan brutal" yang melanggar MoU gencatan senjata. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan AS sebagai bukti bahwa Washington "sama sekali tidak menghargai komitmennya" dan bahwa "mengingkari janji adalah bagian dari sifat rezim ini."

Kuwait dan Bahrain, dua negara yang wilayahnya kini terseret langsung, bereaksi keras. Bahrain menyebut serangan rudal balistik dan drone Iran sebagai pelanggaran kedaulatan yang merusak peluang de-eskalasi, sekaligus meminta Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat. Kuwait menyuarakan kecaman senada, menegaskan haknya untuk mengambil "semua tindakan yang diperlukan" guna menjaga kedaulatan dan keamanan warganya.

Dukungan datang dari Riyadh. Arab Saudi mengecam keras tindakan agresi Iran, menyebutnya pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB, serta menegaskan solidaritas penuh terhadap Kuwait dan Bahrain. Kompak, setidaknya untuk sekarang.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi muncul di Baghdad dengan nada yang agak berbeda. Ia memperingatkan bahwa upaya mana pun untuk menetapkan aturan baru terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa persetujuan Iran hanya akan memperumit situasi dan memperlambat pembukaan kembali selat itu. "Setiap upaya untuk mengadopsi pengaturan baru atau terpisah dibandingkan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Republik Islam Iran hanya akan menyebabkan situasi yang lebih rumit dan penundaan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz," kata Araghchi dalam konferensi pers di Baghdad. IRGC sebelumnya juga sudah memperingatkan kapal-kapal agar menghindari koridor baru yang diklaim diumumkan Oman dan IMO tanpa konsultasi dengan Teheran. Araghchi sekaligus menyerukan kerangka keamanan kawasan baru yang, kata dia, harus bebas dari campur tangan negara luar kawasan. Arahnya sudah jelas.

Bagi pelaku pasar energi global, ini bukan sekadar drama geopolitik. Dua juta barel minyak mentah di atas satu kapal tanker yang dihajar, jalur pelayaran yang masih dipersengketakan, ancaman penebar ranjau yang kini jadi salah satu target serangan AS. Cukup untuk membuat siapa pun yang memegang saham sektor energi atau instrumen berbasis minyak menahan napas lebih panjang dari biasanya.