Yield Treasury 30 tahun sempat menyentuh 5,34% pada Selasa lalu, tertinggi dalam 19 tahun. Satu hari kemudian, Washington bergerak.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Rabu (19/8/2026) mengumumkan penggandaan nilai buyback obligasi jangka panjang, dari US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Kebijakan ini berlaku untuk surat utang tenor 10 hingga 30 tahun, efektif mulai 9 September sampai 4 November 2026. Pasar merespons cepat. Yield Treasury 30 tahun langsung amblas 10 basis poin ke kisaran 5,18%, sementara yield tenor 10 tahun terkoreksi sekitar 6 basis poin ke 4,66%.
Langkah Departemen Keuangan ini bukan datang dari ruang hampa. Total utang pemerintah AS yang beredar telah menembus US$40 triliun per Rabu kemarin, dan kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran menambah ketidakpastian. Aksi jual di pasar obligasi sebelumnya dipicu kombinasi kekhawatiran inflasi, defisit fiskal yang membengkak, dan belanja pertahanan yang terus melar.
Dan Gottlander, Global Head of USD and CAD Swaps Trading di Citi, menyebut langkah ini bakal berdampak besar pada tenor panjang. Tapi ia menambahkan catatan penting: buyback obligasi lama tidak mengubah defisit. Pemerintah tetap perlu menerbitkan surat utang baru untuk menutup kebutuhan pembiayaan, kemungkinan besar dalam bentuk surat utang jangka pendek.
Analisis serupa datang dari Rene Albrecht, analis DZ Bank. Menurutnya, Washington memang khawatir dengan dampak yield yang sudah menembus 5% pada sektor swasta. Bukan sekadar soal bunga utang pemerintah, tapi biaya pinjaman korporasi dan suku bunga hipotek yang sudah mahal ikut kena tampar. Trump sendiri, saat ditanya apakah masyarakat perlu cemas terhadap volatilitas obligasi, menjawab singkat: "Tidak, saya rasa tidak."
Efeknya langsung terasa di ekuitas. S&P 500 berhasil menghentikan tren pelemahan tiga sesi beruntun, meski saham-saham produsen cip masih tertekan. Indeks dolar AS tergelincir ke level terendah dalam tiga bulan. Emas melesat ke tertinggi sejak awal Juni, dan harga minyak mempertahankan reli empat hari beruntun dengan kontrak berjangka AS mendekati US$85 per barel. Bitcoin pun ikut melesat seiring Trump mendorong Kongres mengesahkan regulasi kripto dalam pertemuan di Gedung Putih.
Bursa Asia langsung mengekor pada Kamis (20/8/2026). Kospi Korea Selatan memimpin dengan lonjakan 3,11%, Kosdaq naik 2,26%. Di Jepang, Nikkei 225 menguat 0,66% dan Topix naik 0,57%. S&P/ASX 200 Australia terkerek 0,59%. Kontrak berjangka untuk indeks AS juga sedikit menguat di awal sesi.
Masif? Belum tentu. Agaknya terlalu dini untuk bicara pemulihan yang berkelanjutan. Michael Schumacher, mantan Kepala Makro Wells Fargo, secara blak-blakan menyebut jeda tekanan di pasar obligasi ini kemungkinan tidak akan bertahan lama. Ia menunjuk defisit anggaran AS yang masih menganga lebar, ditambah eskalasi belanja pertahanan pasca-konflik Iran yang kian memperberat beban fiskal. "Di kasus AS khususnya, ada defisit anggaran yang sangat besar dan tidak banyak tanda bahwa hal itu akan membaik," ujar Schumacher kepada CNBC.
Kata kuncinya ada di sana: buyback ini memberi likuiditas, bukan memperbaiki fundamental. Entah kebetulan atau tidak, pelaku pasar hari ini masih menantikan data klaim pengangguran mingguan AS dan laporan kinerja Walmart untuk kuartal II fiskal. Dua data yang, kalau angkanya meleset dari ekspektasi, bisa dengan cepat membalik sentimen risk-on yang baru seumur jagung ini.