Empat astronaut, satu orbit Bulan, lalu pulang. Begitulah gambaran singkat misi Artemis II yang dijadwalkan meluncur April 2026. Sederhana di permukaan, tapi siapa pun yang mengikuti dinamika program ini tahu bahwa misi itu bukan titik akhir, melainkan batu loncatan menuju sesuatu yang jauh lebih ambisius.
NASA membangun pangkalan di Bulan. Bukan wacana, bukan konsep. Misi pertama untuk menyiapkan infrastruktur pangkalan dijadwalkan meluncur sebelum akhir tahun ini, dengan target hunian awal pada 2029. Fase ketiga program ini, yang mencakup kehadiran manusia berkelanjutan di permukaan Bulan, ditargetkan rampung pada 2032.
Angka-angkanya tidak main-main. Pangkalan Bulan saja diperkirakan menelan lebih dari 20 miliar dolar AS, sekitar Rp356 triliun. Total program Artemis dari awal hingga misi Mars? Membengkak menjadi sekitar 93 miliar dolar AS, atau Rp1,66 kuadriliun. Bukan anggaran kecil, bahkan untuk ukuran negara dengan GDP terbesar di dunia.
Fase awal program pangkalan ini melibatkan 25 peluncuran, 21 pendaratan, dan 400 metrik ton kargo. Blue Origin milik Jeff Bezos dipilih untuk misi pendarat pertama yang didanai swasta, dikirim ke Kutub Selatan Bulan untuk menguji kemampuan pendaratan dan membawa muatan ilmiah. Misi berikutnya membawa muatan komersial terbesar yang pernah mendarat di Bulan, termasuk kendaraan penjelajah dari AstroLab yang mampu melaju hingga 10 kilometer per jam dan melewati lereng berkemiringan 20 derajat. Misi ketiga mengangkut muatan dari Badan Antariksa Eropa dan Korea.
Di luar tiga misi pembuka itu, sebuah drone Bulan bernama Moonfall akan dibawa wahana Firefly untuk mengukur radiasi, memetakan medan, memandu pendaratan, dan mencari es di bawah permukaan. Reaktor nuklir untuk memasok daya pangkalan bisa diluncurkan paling cepat pada 2030.
"Kami memanfaatkan pedoman NASA dari era 1960-an, mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak dalam ilmu bertahan hidup ini," kata Administrator NASA Jared Isaacman. "Karena pangkalan Bulan sama indahnya dengan keras dan tidak ramah."
Lalu pertanyaan yang lebih mendasar: kenapa sekarang, dan kenapa dengan urgensi seperti ini?
Jawabannya ada di Beijing. China tidak pernah menyembunyikan ambisi mereka untuk mendirikan stasiun penelitian di Bulan. Selama dua dekade terakhir, program eksplorasi bulan mereka terus diperkuat, dari misi robotik hingga perencanaan misi berawak. Program Artemis, yang dibentuk pada 2017, agaknya lahir bukan dari romantisme ilmiah, melainkan sebagai respons strategis terhadap perkembangan itu.
Dr. Becky Smethurst, astrofisikawan dari University of Oxford, cukup blak-blakan soal ini. Motivasi di balik misi-misi ini bukan murni sains, tegasnya. Ada alasan politik dan ekonomi yang jauh lebih dominan. "Kita kembali berada dalam perlombaan antariksa yang lain, kali ini dengan AS yang ingin mengalahkan China dalam menempatkan manusia di Bulan," kata Smethurst.
Dr. Priyanka Dhopade dari University of Auckland menambahkan bahwa dorongan membangun kehadiran manusia jangka panjang di Bulan saat ini jauh lebih kuat dibanding era sebelumnya, didorong keterlibatan sektor swasta seperti SpaceX dan Blue Origin yang menjadi akselerator baru.
Soal kepemilikan Bulan, ini wilayah abu-abu yang semakin keruh. Outer Space Treaty memang melarang klaim kedaulatan dan pangkalan militer. Tapi AS kini memimpin lebih dari 60 negara menandatangani Artemis Accords, kesepakatan tidak mengikat yang mengizinkan ekstraksi sumber daya dan pembentukan zona aman di sekitar area aktivitas. Negara dan perusahaan, dengan kata lain, bisa secara efektif mengendalikan wilayah tertentu di Bulan tanpa secara formal "memilikinya".
Sumber daya di Bulan bukan sekadar simbolis. Es air di Kutub Selatan krusial untuk produksi bahan bakar roket dan air minum, fondasi dari setiap pangkalan jangka panjang. Ada pula unsur tanah jarang dan helium-3, yang disebut-sebut berpotensi sebagai bahan bakar reaktor fusi masa depan, meski seberapa besar cadangannya masih belum diketahui pasti. Kalau data ini bisa dipercaya, cadangan helium-3 di Bulan bisa menjadi salah satu aset energi paling strategis abad ini.
"Tak ada yang dapat menghentikan NASA, badan antariksa China, atau bahkan perusahaan komersial untuk mendarat di titik tertentu di Bulan dan mengklaim semua sumber daya di sana," kata Smethurst. Hambatan satu-satunya saat ini adalah tantangan teknologi, bukan regulasi.
Bernilai strategis pula. Bulan berfungsi sebagai titik persinggahan ideal menuju Mars, platform pengamatan Bumi, dan sisi jauhnya yang tersembunyi dari pandangan Bumi menawarkan potensi pengembangan teknologi yang jauh dari jangkauan deteksi siapa pun.
Lori Glaze, pejabat NASA, membingkainya lebih bersih: "Dengan pangkalan Bulan, astronaut Artemis akan tinggal lebih lama, menjelajah lebih jauh, dan melakukan sains yang membantu eksplorasi. Kami juga belajar bagaimana manusia bekerja di luar Bumi, membangun infrastruktur, dan bersiap menuju Mars."
Dua narasi itu, sains versus geopolitik, keduanya benar sekaligus. Pertanyaannya, mana yang lebih lama bertahan sebagai motivasi utama? Yang jelas, untuk pertama kalinya sejak era Apollo, manusia kembali serius soal Bulan. Dan kali ini, taruhannya jauh lebih dari sekadar prestise.