Hanya 10 kapal per hari. Itulah yang tersisa dari lalu lintas Selat Hormuz sekarang, jalur yang sebelum konflik ini rata-rata dilalui 60 kapal setiap harinya. Angka dari platform pemantauan Hormuz Strait Monitor itu berbicara lebih keras dari klaim kemenangan mana pun.
Teheran kini terang-terangan memonetisasi situasi itu. Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia pada Rabu (13/5) menyatakan penguasaan atas selat tersebut berpotensi menggandakan pendapatan minyak negaranya, sekaligus memperkuat postur Iran di panggung internasional. Bukan sekadar retorika. Wakil Ketua Parlemen Iran Hamidreza Hajibabaei sebelumnya mengonfirmasi bahwa Teheran sudah mulai mengantongi pemasukan dari pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas.
Lebih jauh, Akraminia mengumumkan larangan pengiriman senjata AS melalui selat itu menuju pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. "Mulai sekarang, kami tak akan mengizinkan senjata Amerika melintasi Selat Hormuz," tegasnya. Bagian barat selat kini berada di bawah komando IRGC, bagian timur diawasi angkatan laut reguler Iran.
Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi menyatakan komisinya telah merampungkan rencana pengelolaan jalur itu. "Iran bermaksud menggunakan posisi strategis ini sebagai alat kekuatan melalui pengelolaan strategis Selat Hormuz," kata Azizi, seperti dilaporkan televisi pemerintah Iran.
Tapi senjata sesungguhnya bukan regulasi atau pungutan.
Ratusan perahu cepat bersenjata, diperkirakan antara 500 hingga lebih dari 1.000 unit, tersembunyi di sepanjang gua, teluk kecil, dan terowongan bawah tanah di pesisir selatan Iran. Inilah yang oleh analis Barat dijuluki "mosquito fleet", lahir dari trauma Perang Tanker era 1980-an ketika armada konvensional Iran dihajar keras oleh Angkatan Laut AS. IRGC kemudian membangun doktrin baru: bukan lagi bertarung frontal, melainkan mengerubung, mengganggu, membingungkan.
Saeid Golkar, profesor di University of Tennessee di Chattanooga sekaligus penasihat senior di United Against Nuclear Iran, menyebut armada ini dirancang untuk "mengganggu, mengerubung, membingungkan, dan mengacaukan pelayaran." "IRGC mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengalahkan Amerika Serikat dalam perang laut konvensional," katanya. Karena itulah sasaran dialihkan ke kapal tanker komersial, bukan kapal perang.
Taktiknya beragam: tembakan di dekat lambung kapal dagang, penanaman ranjau, serbuan perahu berkecepatan tinggi dari berbagai penjuru sekaligus. Banyak di antaranya sekadar kapal nelayan yang dimodifikasi, murah dan gampang diproduksi ulang. Can Kasapoglu dari Hudson Institute menyebut pendekatan ini memungkinkan Iran menempatkan aset bernilai tinggi lawan dalam risiko dengan biaya yang relatif kecil.
Efektivitasnya? Tidak bisa disepelekan. Lalu lintas maritim sudah lebih dari 90% di bawah level pra-perang, menurut tim Angkatan Laut Inggris. Biaya asuransi rute Hormuz melonjak. Perusahaan pelayaran banyak yang memilih minggir sepenuhnya dari kawasan itu.
Ironisnya, Trump sempat sesumbar telah "sepenuhnya menghancurkan" angkatan laut Iran, menyisakan hanya "perahu kecil dengan senapan mesin." Entah kebetulan atau tidak, pernyataan itu justru menggambarkan persis armada yang kini bikin Washington pusing.
Gencatan senjata yang mulai berlaku 8 April sempat memunculkan secuil harapan. Aktivitas pelayaran meningkat sesaat, tapi AS kemudian memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar-masuk Iran, dan situasi kembali amblas. Pekan lalu sebuah kapal kargo berbendera AS dilaporkan kena proyektil sekitar 43 kilometer timur laut Doha, Qatar. Kebakaran kecil, tidak ada korban jiwa. Pesannya sudah cukup.
Organisasi Maritim Internasional PBB mencatat sekitar 1.500 kapal dan 20.000 awak masih terdampak blokade. Anjloknya volume minyak dari Teluk Persia, menurut sebagian analis, sudah berkontribusi pada guncangan pasokan terbesar dalam sejarah energi global, dengan harga minyak yang kini mendekati rekor tertinggi.
Selat yang di masa normal mengalirkan seperlima pasokan minyak dan LNG dunia itu kini adalah meja perundingan. Taruhannya: kapal-kapal yang tak kunjung bisa berlayar pulang.