Abbas Araghchi tahu nyawanya terancam. Tahu, dan tetap berangkat.
Menteri Luar Negeri Iran itu membenarkan laporan bahwa pejabat Washington pernah mendeteksi rencana operasi pembunuhan oleh militer Israel terhadap dirinya dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, tepat saat putaran perundingan gencatan senjata Iran-AS berlangsung di Islamabad pada April lalu. Dalam wawancara dengan televisi negara Iran, Jumat (3/7/2026), Araghchi mengaku sudah mengetahui ancaman itu sebelum ia meninggalkan Teheran.
"Kami adalah bangsa Iran, kami tidak takut mati demi negara kami," tegasnya. Lalu ia menambahkan kalimat yang agaknya lebih ditujukan sebagai pesan politik ketimbang sekadar respons emosional: "Para pengecut menyerang dari belakang. Kami datang untuk perdamaian regional. Sekarang kalian lihat siapa sebenarnya yang menjadi kanker itu."
Di balik pernyataan itu, ada cerita yang jauh lebih rumit. Berdasarkan laporan New York Times dan Washington Post, kekhawatiran Washington terhadap keselamatan kedua pejabat Iran memuncak begitu tajam hingga pemerintah AS terpaksa mengaktifkan saluran komunikasi diplomatik rahasia. Pesan peringatan tertutup diteruskan melalui sejumlah negara sekutu di kawasan Timur Tengah langsung ke Teheran, karena jalur resmi sudah tidak memungkinkan sejak perang meletus 28 Februari.
Alasannya sangat pragmatis, kalau data intelijen ini bisa dipercaya. Seorang sumber yang dikutip NYT menyebut Washington khawatir jika Araghchi dan Ghalibaf benar-benar dilenyapkan, seluruh meja perundingan yang tengah berjalan akan runtuh dan memicu konfrontasi baru yang jauh lebih destruktif. Tidak ada yang bisa diajak bicara di Teheran kalau semua perundingnya sudah habis dihabisi.
Pakistan rupanya juga ikut bermain dalam drama ini. Sejak Maret, saat pertempuran masih berlangsung panas, Islamabad lebih dulu menekan Washington agar meminta Israel mencoret nama Araghchi dan Ghalibaf dari daftar target. "AS meminta Israel untuk mundur," ungkap seorang pejabat Pakistan kepada Reuters, seraya memperingatkan bahwa jika kedua tokoh itu tewas, tidak akan ada lagi yang bisa diajak bernegosiasi.
Delapan jam lewat jalur darat. Itulah yang harus ditempuh Ghalibaf dan seluruh delegasinya untuk pulang ke Teheran setelah perjalanan dari Islamabad nyaris berakhir bencana. Saat ketua parlemen itu terbang menemui Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April, pesawat delegasi Iran dikawal jet tempur Pakistan sejak perbatasan hingga mendarat. Dalam perjalanan pulang, pasukan keamanan Iran mendeteksi dua jet tempur Israel yang diduga menerobos wilayah udara mereka via rute Irak, kemungkinan besar hendak menyergap pesawat sang ketua parlemen. Pesawat mendarat darurat di Mashhad. Ghalibaf lalu dievakuasi lewat darat.
Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa nama Araghchi dan Ghalibaf sempat masuk daftar target Israel selama kampanye eliminasi terhadap pejabat senior Iran, sebelum belakangan dilaporkan dicoret sementara. Israel memang sudah terbukti sistematis dalam pendekatan ini: sejak perang pecah, kepala keamanan nasional Iran Ali Larijani dan mantan menteri luar negeri Kamal Kharazi, yang disebut-sebut sebagai figur potensial untuk bernegosiasi, dilaporkan telah lebih dulu dilikuidasi.
Perundingan Islamabad akhirnya menghasilkan kerangka kesepakatan yang ditandatangani Iran dan AS pada 17 Juni. Kedua negara kini berada dalam masa gencatan senjata yang diperpanjang 60 hari, memberi ruang untuk merumuskan perjanjian akhir. Pemerintah AS maupun Israel belum memberikan tanggapan resmi atas seluruh rangkaian tuduhan ini.