SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Arab Saudi Siapkan Dua Pencakar Langit, Burj Khali...

Internasional

Arab Saudi Siapkan Dua Pencakar Langit, Burj Khalifa Terancam Turun Takhta

Jeddah Tower yang dirancang setinggi lebih dari 1 kilometer sudah dalam konstruksi, sementara Rise Tower di Riyadh diproyeksikan menembus 2 kilometer, hampir dua kali lipat ketinggian Burj Khalifa.

Burj Khalifa Terancam Tergeser, Ini Calon Gedung Tertinggi Baru - Gaya Hidup

Burj Khalifa berdiri 828 meter di Dubai selama lebih dari satu dekade, tak tertandingi. Kini Arab Saudi datang membawa dua proyek sekaligus yang dirancang untuk meruntuhkan rekor itu.

Yang pertama dan paling konkret adalah Jeddah Tower, nama resminya Jeddah Economic Company Tower, yang dibangun di Kota Jeddah dengan target ketinggian lebih dari 1.000 meter. Kalau selesai sesuai rencana, selisih dengan Burj Khalifa bukan lagi soal sentimeter, tapi ratusan meter penuh. Lompatan yang, dalam sejarah pencakar langit dunia, terbilang luar biasa.

Jeddah Tower hanya pemanasan. Di ibu kota Riyadh, proyek bernama Rise Tower sedang dikaji sejumlah firma arsitektur global, termasuk beberapa nama yang sebelumnya terlibat dalam pembangunan Jeddah Tower dan Burj Khalifa itu sendiri. Target ketinggiannya: 2 kilometer. Hampir dua kali lipat Burj Khalifa. Bukan sekadar memecahkan rekor, ini mengubah seluruh definisi "gedung tinggi" dalam konstruksi modern.

Rise Tower direncanakan berdiri di kawasan bisnis utara Riyadh, menggabungkan hotel mewah, apartemen, pusat bisnis, observatorium, hingga area hiburan dalam satu struktur monumental. Teknologi konstruksi yang diklaim mampu menopang beban struktural setinggi itu menjadi bagian krusial dari kajian yang sedang berlangsung. Kajian serius. Belum keputusan final.

Kedua proyek masuk dalam kerangka besar Vision 2030, program transformasi ekonomi yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengurangi ketergantungan Saudi pada minyak. Seorang pejabat proyek yang tak disebutkan namanya menyatakan kepada media internasional, "Kami ingin membangun sesuatu yang belum pernah dicapai manusia sebelumnya." Setidaknya itu klaim yang beredar dari lingkaran proyek.

Tidak semua pihak antusias. Antony Wood dari Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH) mengingatkan bahwa membangun struktur setinggi dua kilometer bukan melulu soal arsitektur. "Membangun gedung setinggi dua kilometer bukan hanya tantangan arsitektur, tetapi juga tantangan logistik dan keberlanjutan," katanya. Biaya fantastis, konsumsi energi masif, dan dampak lingkungan di wilayah gurun menjadi deretan pertanyaan yang belum terjawab.

Bukan kali pertama Saudi memunculkan megaproyek yang memancing skeptisisme. NEOM, kota futuristik senilai ratusan miliar dolar di kawasan Laut Merah, dan The Line, kota linear sepanjang 170 kilometer, lebih dulu dihajar kritik sebelum akhirnya tetap berjalan, meski dengan penyesuaian besar di lapangan.

Bagi investor properti dan infrastruktur, persaingan pencakar langit Timur Tengah ini bukan sekadar tontonan. Kontrak konstruksi, material baja dan beton skala raksasa, serta ekosistem jasa arsitektur di sekitar proyek-proyek ini bernilai miliaran dolar. Entah kebetulan atau tidak, beberapa firma yang digandeng dalam kajian Rise Tower adalah nama-nama yang sudah lama dipantau analis infrastruktur global. Pasar, agaknya, sudah mulai menghitung.