Tujuh juta barel per hari. Angka itu kembali mengalir melalui East-West Pipeline Arab Saudi setelah beberapa hari pipa strategis tersebut babak belur dihantam serangan drone.
Kementerian Energi Riyadh mengumumkan kapasitas pompa pipa yang menghubungkan fasilitas pengolahan di kawasan Teluk Persia dengan terminal ekspor Yanbu di Laut Merah itu sudah kembali normal. Pernyataan resmi menyebut seluruh fasilitas energi yang terdampak serangan telah pulih dan beroperasi penuh, meski tanpa menyebut nama pihak yang bertanggung jawab secara eksplisit. Arab Saudi hanya mencatat bahwa mereka telah mencegat banyak rudal dan drone Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelum pemulihan ini, serangan terhadap stasiun pompa di jalur pipa memangkas aliran minyak hingga 700.000 barel per hari. Bukan angka kecil, terutama karena pipa ini menjadi satu-satunya jalur ekspor yang masih bisa diandalkan sejak Selat Hormuz ditutup Iran.
Kerusakan tidak berhenti di pipa. Fasilitas produksi Manifa dan Khurais masing-masing kena serangan dan masing-masing kehilangan sekitar 300.000 barel per hari dari kapasitas produksinya. Total, Arab Saudi kehilangan sekitar 600.000 barel per hari dari sisi output. Produksi Manifa sudah dipulihkan penuh. Khurais masih dalam proses.
TotalEnergies juga melaporkan kerusakan di sejumlah kilang Arab Saudi sebagai imbas insiden ini, sinyal bahwa skala gangguan cukup luas hingga perusahaan energi asing pun ikut kena getahnya.
Pasar bereaksi cepat. Kontrak berjangka Brent menguat 0,87% ke US$96,75 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 1,06% menjadi US$98,91 per barel. Premi risiko geopolitik yang lahir dari kombinasi serangan infrastruktur dan tersumbatnya Selat Hormuz agaknya cukup untuk mengalahkan sentimen positif dari gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan antara AS dan Iran.
Analis pasar IG Tony Sycamore menilai optimisme awal pascapengumuman gencatan senjata oleh Presiden Trump mulai tergerus keraguan soal keberlanjutan perdamaian, terutama setelah bentrokan masih dilaporkan terjadi usai pengumuman tersebut.
Selat Hormuz praktis tersumbat sejak konflik memanas pada akhir Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Iran sempat mengusulkan pengenaan biaya bagi kapal yang melintas sebagai bagian dari paket perdamaian. Proposal itu langsung ditolak negara-negara Barat dan badan pelayaran PBB.
Kalau jalur itu tetap tertutup, angkanya bisa bikin kepala pusing. John Paisie dari Stratas Advisors memperkirakan Brent berpotensi melonjak hingga US$190 per barel dalam skenario terburuk. Bahkan jika Iran membuka kembali selat secara bertahap, harga minyak diprediksi akan tetap bertengger jauh di atas level sebelum konflik.
Pemulihan cepat infrastruktur Saudi memang melegakan. Tapi selama Selat Hormuz belum terbuka, volatilitas pasar energi global masih punya banyak bahan bakar.