Apple memblokir dua aplikasi lokal terbesar Rusia dari App Store. Kremlin tidak tinggal diam.
Juru bicara pemerintah Rusia Dmitry Peskov secara terbuka menyarankan jutaan pengguna iPhone di negaranya untuk pindah ke ekosistem Android. Langkah ini bukan sekadar saran teknis, agaknya ini sinyal politik yang cukup kentara soal posisi Moskow terhadap dominasi platform teknologi Barat.
Dua aplikasi yang dihapus dari App Store adalah VKontakte, platform media sosial yang kerap disebut sebagai "Facebook-nya Rusia", dan Max, aplikasi pesan instan lokal yang banyak dipakai sebagai alternatif WhatsApp. Max diblokir lebih dulu pada awal Juni 2026, disusul VKontakte pada 25 Juni. Bagi pengguna yang sudah menginstal sebelumnya, aplikasi masih bisa dibuka, tapi Apple sudah menonaktifkan fitur push notification. Lumayan merepotkan, meski belum sepenuhnya lumpuh.
Peskov tidak menyembunyikan kekesalan Kremlin. "Selalu ada solusi cepat. Beralihlah ke Android, beralihlah ke sistem kami, beralihlah ke layanan kami yang setara, dan terus gunakan layanan yang Anda sukai," tegasnya, dikutip dari Ars Technica. Ia juga menuntut penjelasan resmi dari Apple atas kebijakan yang disebutnya sepihak itu.
VK Group, perusahaan di balik kedua aplikasi tersebut, merespons dengan nada hati-hati tapi tak kurang tajam. Mereka menegaskan VKontakte tidak masuk dalam daftar sanksi mana pun, sebuah klaim yang menurut mereka telah dikonfirmasi oleh sejumlah penasihat hukum internasional maupun AS. "Apple secara sepihak menghapus aplikasi VK tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kami menganggap tindakan ini terhadap pengguna Rusia tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat diterima," bunyi pernyataan resmi VK Group. Patut dicatat, Apple sampai kini belum memberikan penjelasan publik atas pemblokiran ini, sehingga klaim VK Group belum bisa dikonfirmasi dari sisi sebelah.
Di ekosistem Android, VK Group mengklaim semua aplikasinya masih berjalan penuh dengan pembaruan berkala. Tersedia di RuStore, Google Play, Huawei AppGallery, Samsung Store, Xiaomi Store, hingga situs resmi perusahaan. Bagi pengguna Rusia yang ingin tetap terhubung, pilihannya jelas. Tapi berpindah platform bukan perkara kecil bagi jutaan orang yang sudah bertahun-tahun terkunci di ekosistem Apple.
Ketiadaan respons resmi dari Apple, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin kebiasaan mereka, justru memberi amunisi bagi narasi Kremlin bahwa platform teknologi Barat beroperasi tanpa transparansi hukum yang memadai. Pertanyaannya: apakah ini awal dari gelombang pemblokiran berikutnya, atau kebijakan yang akan diam-diam dikoreksi sebelum sempat memanas lebih jauh?