Antrean mengular demi jam tangan Swatch x AP atau parfum lokal Mykonos di mal-mal Jakarta sempat ramai di media sosial. Sebagian orang membacanya sebagai bukti daya beli masyarakat masih sehat. Ekonom justru punya pembacaan yang berbeda, dan jauh lebih mencemaskan.
Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyebut ada dua jebakan logika yang kerap muncul saat publik membaca fenomena ini. Pertama, selection bias: yang terlihat di antrean hanyalah segmen kelas menengah atas perkotaan, bukan representasi dari 287 juta konsumen Indonesia. Kedua, survivorship bias: perhatian terpusat pada produk yang sukses memicu kerumunan, sementara ribuan produk lain di kategori serupa bisa jadi sedang lesu. "Antrean yang viral di media sosial terlihat besar, tetapi secara statistik sebenarnya sangat kecil dibanding populasi konsumen Indonesia," kata Yusuf.
Dari sudut berbeda, Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad membaca fenomena ini sebagai soal simbol. Produk viral bukan sekadar barang, kepemilikannya adalah cara orang menunjukkan posisi sosial. Strategi kelangkaan yang disengaja oleh brand membuat FOMO bekerja efektif menggerakkan massa dalam waktu singkat. Tapi sekali lagi, ini cerita tentang segmen sempit di kota besar, bukan potret konsumsi nasional.
Lapisan yang lebih menarik justru ada di bawahnya. Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mencatat ada peningkatan pada indeks penjualan ritel untuk kategori perawatan pribadi dan kosmetik, meski tekanan daya beli kelas menengah nyata terasa bersamaan. Inilah yang disebut lipstick effect, konsep yang pertama kali dipopulerkan setelah Leonard Lauder dari Estée Lauder mengamati lonjakan penjualan lipstik pasca serangan 11 September 2001. Ketika dompet tertekan dan pembelian besar seperti rumah atau mobil ditunda, konsumen mencari kepuasan emosional dari barang kecil yang masih terasa terjangkau. "Itu adalah alarm kecil," kata Guru Besar FEB Universitas Indonesia Budi Frensidy, ringkas.
Faisal mengingatkan tren ini bukan barang baru. Perhatian masyarakat terhadap produk perawatan pribadi sudah terbentuk sejak pandemi enam tahun lalu, sebagian dipicu meningkatnya kesadaran kesehatan. Tapi konteksnya hari ini berbeda: kelas menengah sudah menanggung tekanan panjang, dan agaknya belum menemukan titik pemulihan yang solid. "Dari 2020 sampai sekarang, daya beli dan jumlah kelas menengah terus mengalami penurunan," ungkap Faisal.
Yusuf menambahkan lapisan yang lebih mengkhawatirkan. Gejala downtrading mulai bermunculan, konsumen beralih ke kemasan lebih kecil, produk lebih murah, atau memanfaatkan paylater untuk mempertahankan gaya hidup lama. Bukan ekspresi kekuatan finansial. Strategi bertahan. Budi Frensidy memperingatkan bahwa lipstick effect baru benar-benar serius ketika disertai penurunan tabungan, kenaikan kredit macet paylater, dan melemahnya konsumsi barang tahan lama. Beberapa sinyal itu sudah mulai terlihat.
Di sisi paling makro, Teguh Yudo Wicaksono dari Universitas Islam Internasional Indonesia menyebut situasi ini konsekuensi langsung dari kebijakan yang selama ini membuat kelas menengah stagnan: ketidakpastian usaha, pelemahan nilai tukar, investor menahan ekspansi. "Jadi semua memang indikasi kelas menengah dalam tekanan," kata Teguh.
Gambaran paling tepat untuk membaca semua ini, entah kebetulan atau tidak, persis seperti pola K-shaped consumption yang sudah lama diperingatkan ekonom: kelompok atas tetap resilien bahkan meningkatkan belanja gaya hidup, sementara kelompok menengah bawah mulai menahan diri dan bergeser ke produk esensial. Antrean di Pondok Indah Mall bukan kontradiksi dari data makro yang melemah. Justru konfirmasi bahwa pembelahan itu sudah berlangsung. "Kalau tekanan ekonomi berlangsung terlalu lama sementara pendapatan tidak naik, risiko berikutnya adalah tabungan rumah tangga terkuras dan daya tahan masyarakat semakin melemah," kata Yusuf.
Jadi untuk investor yang membaca laporan konsumsi dan melihat angka ritel perawatan pribadi naik, baca konteksnya dulu. Alarm kecil yang diabaikan terlalu lama bisa berakhir jauh lebih keras bunyinya.