KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Antara Musuh Lama dan Mitra Baru: AS-Israel Pertim...

Internasional

Antara Musuh Lama dan Mitra Baru: AS-Israel Pertimbangkan Ahmadinejad untuk Iran Pasca-Perang

Rencana rahasia Washington dan Tel Aviv yang melibatkan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebagai calon pemimpin pasca-perang menuai skeptisisme tinggi, terlebih mengingat rekam jejaknya yang penuh retorika anti-Israel.

AS dan Israel Rancang Skenario Politik Pasca-Perang Libatkan Ahmadinejad

Ironi politik kadang hadir dalam bentuk yang paling tidak terduga. Washington dan Tel Aviv dilaporkan tengah merancang skenario pasca-perang di Iran yang, entah kebetulan atau tidak, menempatkan nama Mahmoud Ahmadinejad sebagai salah satu opsi kepemimpinan masa depan negara itu.

Laporan The New York Times yang terbit akhir Mei 2026 mengungkap bahwa kedua negara mempertimbangkan figur mantan presiden Iran periode 2005-2013 itu, sebagian karena jarak politiknya yang kian merenggang dari elite Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Faktor lain: kombinasi ketenaran publik dan pengalaman birokrasi yang agaknya dianggap relevan oleh perencana strategis di kedua ibu kota.

Rencana itu sudah berantakan bahkan sebelum sempat dieksekusi. Operasi militer yang dirancang untuk membebaskan Ahmadinejad dari status tahanan rumah justru berujung pada cederanya sang mantan presiden. Keberadaannya kini tidak diketahui pasti.

Yang membuat laporan ini terasa absurd bagi banyak analis adalah rekam jejak Ahmadinejad itu sendiri. Lelaki yang pernah menyebut Israel sebagai "sel kanker" dan secara terbuka menolak narasi Holocaust ini pernah berkata dari podium PBB, bukan di rapat tertutup: "Perlu Anda ketahui bahwa rezim yang dibenci ini [Israel] berada di jalur menuju kehancuran. Dengan kehendak Tuhan, rezim ini akan runtuh dan tidak ada faktor yang dapat menyelamatkannya. Rezim ini telah mencapai akhir perjalanannya dan akan segera dihapus dari peta geografis."

Tapi justru retorika itulah yang, menurut mantan Kepala Mossad Efraim Halevy, memberi keuntungan diplomatik bagi Tel Aviv selama bertahun-tahun. Pernyataan-pernyataan keras Ahmadinejad, klaim Halevy, memudahkan Israel meyakinkan dunia soal bahaya nyata program nuklir Teheran. Halevy bahkan menyebut Ahmadinejad sebagai "hadiah terbesar Iran bagi Israel."

Paradoks yang sulit dicerna. Apakah Tel Aviv kini ingin menjadikan "hadiah" itu sebagai mitra?

Raz Zimmt dari Institute for National Security Studies Israel menilai Ahmadinejad sepanjang masa kepresidenannya sebagai kombinasi populisme dan oportunisme, sosok yang lihai memainkan audiens, tapi tidak punya basis dukungan yang cukup solid untuk merebut kembali kekuasaan. Upayanya menarik perhatian lewat media sosial kepada audiens Barat, kata Zimmt, belum tentu sanggup diterjemahkan menjadi modal politik riil di dalam negeri Iran.

Max Abrahms, profesor ilmu politik dari Northeastern University, lebih blak-blakan. Rencana semacam ini, ujarnya, layak disambut dengan "skeptisisme yang sangat tinggi." Keabsahan seluruh narasi operasional ini pun masih diperdebatkan di kalangan pengamat keamanan Israel, termasuk di platform X.

Redaksi The New York Times menegaskan laporan mereka bersumber dari wawancara langsung dengan pejabat militer dan intelijen AS, Israel, serta Iran. Yossi Melman, analis keamanan senior Israel, meringkasnya pendek saja: "Kisah ini gila dalam banyak hal."

Gila, tapi tidak terjadi dalam ruang hampa. Konflik di Timur Tengah yang menjadi latar belakang semuanya pecah pada akhir Februari 2026. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Uni Emirat Arab ikut melancarkan puluhan serangan udara ke fasilitas energi Iran, eskalasi yang memperluas peta konflik jauh melampaui duel bilateral Iran-Israel.

Dalam konteks itulah nama Ahmadinejad kembali muncul ke permukaan. Bagi sebagian kalangan, ia tetap simbol paling ikonik dari garis keras Teheran, sosok yang selama hampir satu dekade mewakili fase paling konfrontatif dalam sejarah hubungan kedua negara. Menjadikannya instrumen transisi, kalau bisa disebut begitu, adalah taruhan yang, kalau data dan laporan ini bisa dipercaya, risikonya tidak kecil.