Sepanjang Januari hingga Mei 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang mengangkut 130.710 ton komoditas. Tumbuh 32 persen dari periode yang sama tahun lalu, ketika volume tercatat 98.926 ton. Dibanding dua tahun silam, 87.267 ton di Januari-Mei 2024, lompatan itu mencapai 49 persen.
Tiga periode. Tiga kenaikan. Bukan kebetulan.
Pola ini menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar lonjakan musiman. Industri dan perdagangan di koridor Jawa Tengah tampaknya sudah menggeser kalkulasi logistik mereka, dari truk yang terjebak kemacetan tol ke jadwal kereta yang bisa dipegang.
Kontribusi terbesar datang dari peti kemas: 99.751 ton, sekitar 76 persen dari total volume, naik 24 persen secara tahunan. Segmen retail menyumbang 3.161 ton, tumbuh enam persen dari Januari-Mei 2025. Kecil, tapi konsisten.
"Pertumbuhan angkutan barang menunjukkan meningkatnya aktivitas distribusi di berbagai sektor. Kereta api hadir untuk memastikan arus logistik berlangsung secara terjadwal, efisien, aman, dan mampu mendukung kebutuhan dunia usaha maupun masyarakat," kata Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif, Senin (29/6/2026).
Geografis Semarang memang menguntungkan. Wilayah Daop 4 diapit sejumlah kawasan industri strategis: Kawasan Industri Wijayakusuma, Kawasan Industri Terpadu Batang, dan Pelabuhan Tanjung Emas, yang semuanya butuh jalur distribusi andal. KAI mengoperasikan tiga container yard di Stasiun Semarang Poncol, Semarang Tawang Bank Jateng, dan Brumbung sebagai simpul yang menghubungkan titik-titik industri itu ke kota-kota besar.
Setiap hari sekitar 30 perjalanan kereta barang melintas di wilayah ini, membawa semen, BBM, peti kemas, dan barang retail ke Jakarta, Surabaya, Ketapang, Madiun, hingga Jember. Operasional penuh, bukan kapasitas cadangan.
Dari sisi kepercayaan pasar, sinyal juga positif. Pefindo memberikan peringkat idAA untuk KA Logistik, anak usaha KAI yang menjadi ujung tombak layanan angkutan barang korporasi. Kalau data ini bisa dijadikan acuan, fundamental bisnis logistik berbasis rel dipandang solid.
Luqman menegaskan, pertumbuhan volume bukan satu-satunya ukuran. Efisiensi biaya logistik, stabilitas pasokan, konektivitas antara kawasan industri dengan pusat distribusi dan pelabuhan, semuanya masuk dalam hitungan. "Logistik yang kuat akan memperkuat ekonomi," tegasnya.
Pertanyaannya sekarang: apakah kapasitas infrastruktur yang ada cukup untuk menopang laju ini? Kalau tren berlanjut, volume bisa menembus 150.000 ton sebelum tahun berakhir.