SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Andy Burnham Naik, Starmer Tumbang: Babak Baru Pol...

Internasional

Andy Burnham Naik, Starmer Tumbang: Babak Baru Politik Inggris

Keir Starmer digulingkan oleh partainya sendiri setelah gagal memanfaatkan mayoritas mutlak parlemen untuk mengatasi krisis ekonomi Inggris. Andy Burnham kini disiapkan sebagai wajah baru Partai Buruh.

Mendapatkan kekuasaan itu sulit, tetapi mempertahankan kekuasaan bahkan lebih sulit.

Keir Starmer tahun lalu memimpin Partai Buruh meraih kemenangan bersejarah, mengamankan mayoritas mutlak di parlemen dengan selisih yang tidak main-main. Kurang dari setahun kemudian, partai yang sama memilih untuk mendepaknya, dan menunjuk Andy Burnham sebagai penggantinya.

Begitulah politik. Cepat naik, lebih cepat jatuh.

Partai Buruh agaknya sudah kehilangan kesabaran lebih awal dari perkiraan banyak kalangan. Starmer dinilai terlalu asyik dengan agenda kebijakan luar negeri, sementara persoalan domestik yang sudah lama mengendap tidak juga ditangani secara serius. National Health Service (NHS) terus kekurangan dana, pertumbuhan ekonomi melambat, inflasi dan pengangguran bertahan di level yang bikin gerah, dan warisan pahit Brexit masih terasa di mana-mana. Hubungan dengan Washington di era Trump dan negosiasi ulang dengan Uni Eropa juga berjalan tanpa kompas yang jelas.

Bagi para anggota Partai Buruh, hitungannya sederhana: kalau dibiarkan terus, Starmer hanya akan menggerus elektabilitas partai yang sudah susah payah dibangun. Lebih baik potong kerugian sekarang daripada masuk pemilu 2029 dengan beban yang terlalu berat.

Andy Burnham dipilih bukan karena sudah punya cetak biru pemerintahan yang sempurna. Ia dipilih karena dinilai jauh lebih punya "rasa" terhadap pemilih, terutama di kantong-kantong daerah pedesaan dan bekas kawasan industri yang selama ini merasa tidak diwakili oleh kepemimpinan berbasis kota besar ala Starmer. Bukan figur baru, pria yang kerap dijuluki "Raja Utara" ini sudah membangun reputasinya selama bertahun-tahun sebagai Wali Kota Greater Manchester, dan rekam jejaknya di lapangan terbilang solid.

Partai Buruh jelas tidak ingin mengulangi drama yang berulang kali melanda Partai Konservatif, di mana para perdana menteri silih berganti mundur akibat konflik internal yang tak kunjung selesai. Dengan memilih Burnham sekarang, partai berharap bisa menstabilkan pemerintahan dan memanfaatkan sisa tiga tahun masa jabatan ini untuk mempersiapkan kemenangan di pemilu parlemen reguler musim panas 2029.

Tantangan yang menanti? Bukan hal kecil. Reformasi NHS dan sistem kesejahteraan sosial butuh keberanian fiskal yang besar dan dukungan publik yang tidak mudah didapat. Merestrukturisasi anggaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memenuhi komitmen peningkatan belanja pertahanan, dua target yang masing-masing bisa menguras sumber daya sendiri-sendiri. Belum lagi posisi Inggris terhadap perang di Ukraina dan ketegangan dengan Iran, yang memerlukan kalkulasi geopolitik jauh lebih matang dari sekadar pernyataan niat.

Di pasar keuangan, penggeseran kepemimpinan ini sudah mulai terasa. Goldman Sachs merekomendasikan posisi short pada pasangan GBP/USD, sinyal bahwa kalangan institusional memandang ketidakpastian politik ini sebagai tekanan nyata bagi sterling dalam jangka pendek. Bisa jadi para trader memilih menunggu dulu sebelum mengambil posisi lebih tegas, menimbang apakah Burnham benar-benar bisa menghadirkan stabilitas yang dijanjikan partainya.

Satu yang pasti: mandat besar yang diraih Starmer tahun lalu terbukti bukan jaminan apa-apa. Di Westminster, modal politik bisa habis lebih cepat dari yang siapa pun bayangkan.