SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Anduril dan Meta Garap Headset AR Tempur, Saingi R...

Internasional

Anduril dan Meta Garap Headset AR Tempur, Saingi Rival AS dari Iran hingga China

Anduril Industries berkolaborasi dengan Meta untuk mengembangkan headset augmented reality militer yang memungkinkan tentara mengendalikan drone hanya lewat pelacakan mata dan suara, dengan kontrak prototipe senilai USD 159 juta.

Senjata Mematikan AS yang Diklaim Bisa Bikin Iran Habis

Kontrak senilai USD 159 juta. Itulah tiket masuk Anduril Industries ke salah satu proyek senjata paling ambisius militer Amerika Serikat saat ini: headset augmented reality untuk medan perang, yang dikerjakan bersama Meta Platforms milik Mark Zuckerberg.

Sistem ini masuk dalam program Soldier Born Mission Command (SBMC) Angkatan Darat AS. Bukan kacamata pintar biasa. Tentara yang memakainya bisa memerintahkan serangan drone lewat pelacakan mata dan perintah suara, tanpa menyentuh perangkat apapun. Drone dan prajurit, dalam visi Anduril, beroperasi sebagai satu kesatuan yang saling berbagi informasi secara real-time.

"Tujuan fundamentalnya adalah mengoptimalkan visi manusia sebagai sistem senjata," kata Quay Barnett, VP Anduril yang memimpin proyek ini. Barnett bukan orang baru di dunia ini. Ia sebelumnya berkarir di Komando Operasi Khusus Angkatan Darat AS, jadi tahu persis apa yang dibutuhkan di lapangan.

Di luar kontrak resmi SBMC, Anduril juga mendanai sendiri proyek bernama EagleEye, yang diumumkan Oktober 2025. Berbeda dari SBMC yang memasang perangkat di atas helm dan perlengkapan yang sudah ada, EagleEye mengintegrasikan seluruh teknologi langsung ke dalam helm itu sendiri. Lebih compact, agaknya juga lebih ambisius. Yang menarik, militer AS belum meminta sistem ini. Anduril cukup percaya diri bahwa mereka akan menyukainya setelah melihatnya.

Kedua sistem masih butuh waktu panjang sebelum bisa dipakai di medan perang nyata, diperkirakan hingga 2028. Tidak mengejutkan untuk teknologi sekompleks ini.

Anduril tidak sendirian. Rivet, perusahaan spesialis sensor wearable militer, mengantongi kontrak prototipe USD 195 juta di periode yang sama. Elbit, perusahaan pertahanan Israel, masuk dengan kontrak USD 120 juta pada Maret 2026. Uangnya tidak kecil, persaingannya lebih tidak kecil lagi.

Semua kontrak baru ini punya satu benang merah: Microsoft. Pentagon mengaudit program headset pintar sebelumnya yang dipimpin Microsoft dan menemukan Angkatan Darat AS tidak menguji perangkat tersebut dengan benar, berpotensi membuang USD 22 miliar. Sejak saat itu, militer AS membuka kompetisi ulang dan menyebar kontrak ke beberapa pemain sekaligus. Bak gayung bersambut bagi pemain-pemain baru yang selama ini mengintip celah.

Dari sisi geopolitik, konteksnya gamblang. AS masih terlibat ketegangan berkepanjangan dengan Iran dan Israel di Timur Tengah, menghadapi ancaman dari China dan Korea Utara di Asia, serta mengawasi perang Rusia-Ukraina yang melibatkan sekutunya. Pertanyaannya, berapa lama Washington bisa mengandalkan teknologi lama di tengah lanskap perang yang berubah secepat ini? EagleEye dan SBMC adalah bagian dari jawaban atas pertanyaan itu.

Barnett sudah menyiapkan rencana cadangan. Kalau Angkatan Darat AS tidak mengambil EagleEye, Anduril tidak segan menjualnya ke militer asing. Bisnis tetap bisnis, bahkan di industri senjata.