Alon Mizrahi bukan nama sembarangan di lingkaran analis keamanan Israel. Ketika ia menulis di platform X pada Sabtu (18/7) bahwa Iran telah memukul militer Amerika Serikat dengan efektivitas yang melampaui kalkulasi Washington, pernyataan itu layak dibaca dua kali.
"Tidak ada tentara dalam sejarah, selain Viet Cong di Vietnam, yang mampu menghantam pasukan Amerika dengan efektivitas dan ketepatan seperti yang dilakukan angkatan bersenjata Iran," tulis Mizrahi. Kalimat yang berat. Lebih berat lagi mengingat ia secara geopolitik berada di kubu yang berseberangan dengan Teheran.
Argumen Mizrahi bertumpu pada beberapa poin. Soal intelijen: seluruh posisi militer AS di Asia Barat diklaim sudah dipetakan Iran, setiap pangkalan dalam jangkauan serangan, setiap fasilitas penting terus diawasi. Bukan sekadar retorika kalau dilihat dari apa yang terjadi di lapangan. IRGC menyatakan telah menghancurkan radar peringatan dini dan hanggar drone MQ-9 AS di Kuwait, serta menyerang pangkalan di Al-Azraq, Yordania.
Soal psikologi tempur, Mizrahi menyebut konfrontasi ini telah menekan personel militer Amerika secara psikologis. Sebagian, katanya, mengalami semacam keruntuhan mental. Sulit diverifikasi secara independen, tapi cukup menggigit untuk dicatat.
Yang agaknya paling mengejutkan: penilaiannya bahwa Iran baru menggunakan sebagian kecil dari kapasitas militernya. "Eskalasi konflik ini masih memiliki banyak tingkatan," tegasnya. Kalau benar, medan tempur di Asia Barat belum sampai di titik puncaknya. Jauh dari itu.
Di lapangan, konflik terus membara. Iran menuding AS menyerang infrastruktur sipil mereka, termasuk jembatan, fasilitas desalinasi air, dan pembangkit listrik. Pembangkit Listrik Shuaiba Utara di Kuwait dilaporkan hancur. Iran juga disebut melumpuhkan sejumlah infrastruktur digital militer AS di Bahrain, termasuk yang diklaim sebagai fasilitas AI dan cloud militer. Harga bensin di Amerika pun ikut terkerek akibat ketegangan yang belum menunjukkan tanda mereda.
Mizrahi menggambarkan pola tempur Iran sebagai perpaduan teknologi modern dengan semangat yang berakar pada nilai nasional dan keagamaan. Kombinasi itulah yang menciptakan dinamika perang sulit dibaca, apalagi diprediksi. Ibarat pedang bermata dua bagi Washington: setiap eskalasi membuka risiko yang belum pernah dihitung sebelumnya.
Ia menutup analisanya dengan framing historis yang tidak tanggung-tanggung. Konflik yang berlangsung sekarang, menurutnya, adalah "pertempuran terbesar dan paling epik sejak kemenangan Tentara Merah atas Jerman Nazi pada Perang Dunia II." Klaim yang, kalau data dan lapangan bisa dipercaya, masih perlu diuji waktu. Tapi paling tidak, ada analis Israel yang berani mengatakannya secara terbuka.