JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Anak-anak Asia Tenggara Makin Rentan Saat Musim Pa...

Internasional

Anak-anak Asia Tenggara Makin Rentan Saat Musim Panas Makin Garang

Dari Vietnam hingga Malaysia, gelombang panas yang kian intens menempatkan anak-anak pada risiko kesehatan serius. Para dokter dan pelatih olahraga mulai mengubah jadwal, tapi apakah itu cukup?

Bantulah anak-anak menjalani musim panas yang aman dan sehat.

Bocah 8 tahun bernama Muhammad Irfan Sufian tumbang di hari olahraga sekolahnya di Malaysia, didiagnosis heat exhaustion setelah mengeluh sakit kepala hebat, demam tinggi, lalu muntah-muntah. Ibunya, Norul Akmah Abdullah, mengaku tidak tahu harus mengira apa saat itu. "Saat itu, saya dan suami tidak tahu bahwa dia mengalami kelelahan akibat panas. Ketika dia pulang mengeluh sakit kepala, demam, dan muntah, kami segera membawanya ke rumah sakit," kenangnya. Gejalanya? Seperti masuk angin biasa.

Kasus seperti ini agaknya bukan kebetulan tunggal. Di seluruh Asia Tenggara, musim panas 2025 menghadirkan tekanan baru bagi keluarga dengan anak kecil, dan proyeksi tahun-tahun berikutnya tidak lebih menyenangkan. Departemen Pencegahan Penyakit, Kementerian Kesehatan Vietnam memperkirakan jumlah hari panas akan meningkat pada 2026, dengan potensi gelombang panas lebih intens dari rata-rata tahun sebelumnya. Malaysia, di sisi lain, bergulat dengan ancaman Super El Nino yang diprediksi berlangsung hingga akhir tahun, memicu lonjakan suhu ekstrem berkepanjangan.

Masalahnya bukan sekadar cuaca panas. Masalahnya adalah biologi anak.

Spesialis Iklim dan Lingkungan UNICEF Malaysia, Nasha Lee, mengingatkan bahwa tubuh anak memanas lebih cepat dan mendingin jauh lebih lambat dibanding tubuh orang dewasa. "Gelombang panas menimbulkan risiko bagi anak-anak karena paparan yang berkepanjangan meningkatkan kemungkinan dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan serangan panas karena tubuh anak-anak memanas lebih cepat dan mendingin lebih lambat daripada tubuh orang dewasa," urai Nasha Lee.

Dr Ch'ng Tong Wooi, dokter spesialis anak dari Sunway Medical Centre, merinci tiga tingkat keparahan yang perlu dipahami orang tua: kram panas akibat kehilangan garam dan elektrolit, kelelahan panas yang ditandai lemas dan mual, serta heat stroke sebagai fase paling berbahaya. "Serangan panas terjadi ketika suhu inti tubuh melebihi 40 derajat Celsius dan disertai gejala neurologis seperti kebingungan, disorientasi, kejang, kehilangan kesadaran, atau bahkan koma," tegasnya. Penundaan penanganan, lanjut Dr Ch'ng, bisa berujung kerusakan organ permanen.

Satu-dua persen. Segitu saja kehilangan cairan dari berat badan anak sudah cukup untuk menggerus fungsi otak, daya ingat, dan ketahanan fisiknya. Bukan ambang batas yang tinggi untuk anak yang aktif berlarian di bawah terik matahari.

Dari Vietnam, respons datang dari para pelatih. Klub Aerobik Minh Khai di Provinsi Thanh Hoa menggeser jadwal latihan sore dari pukul 17.00 menjadi 17.30 dan memanjangkan sesi hingga pukul 19.00. Kelas bola basket dijadwalkan pagi pukul 06.30 atau setelah 17.30. Kepala Klub Nguyen Viet Phuong menegaskan hidrasi sebelum, selama, dan sesudah latihan menjadi pengingat wajib yang tidak pernah dilewatkan.

Orang tua ikut bergerak. Le Thi Huong, salah satu wali murid, menyiapkan botol air pribadi untuk anaknya setiap hari dan menyediakan buah serta yogurt setelah sesi latihan. "Saat pergi ke kelas, saya selalu mengingatkan anak saya untuk minum air yang cukup, mengenakan pakaian yang menyerap keringat, dan beristirahat dengan cukup," ungkapnya.

Pedoman dari Departemen Pencegahan Penyakit Vietnam menyarankan anak tidak beraktivitas di luar ruangan antara pukul 10.00 hingga 16.00. Untuk tanda-tanda kelelahan ringan: anak segera dipindahkan ke tempat sejuk, pakaian dilonggarkan, tubuh diseka dengan handuk dingin terutama di ketiak, selangkangan, dan sisi leher. Kalau anak masih sadar dan bisa menelan, cairan elektrolit seperti Oresol menjadi pilihan terbaik.

Dr Naveen Nair Gangadaran dari Rumah Sakit Tuanku Ja'afar mengingatkan bahwa gejala awal sering tampak sepele: anak jadi rewel, lesu, nafsu makan turun, atau sulit berkonsentrasi. Mudah diabaikan, padahal sinyal itu tidak bisa ditunda. "Anak-anak sangat rentan karena mereka menghasilkan lebih banyak panas saat beraktivitas dan bergantung pada orang dewasa untuk memastikan kebutuhan cairan serta perlindungan dari panas terpenuhi," jelasnya.

Musim panas tidak akan lebih sejuk tahun depan. Yang bisa berubah hanya kesiapan kita.