Ampul itu pecah pada 25 September 2026. Darya Shipilova, 28 tahun, pegawai Irkutsk Anti-Plague Research Institute of Siberia and the Far East, tak sengaja menjatuhkan wadah berisi sampel Yersinia pestis, bakteri penyebab penyakit pes. Ia meninggal tidak lama setelah itu akibat pneumonia. Setidaknya 200 orang yang tercatat sebagai kontak eratnya langsung dikarantina.
Insiden itu sontak memantik alarm di mana-mana, sebagian karena trauma kolektif terhadap kata "wabah", sebagian lagi karena kecemasan bahwa fasilitas riset sekalipun bisa jadi titik bocor yang berbahaya. Juru Bicara WHO Christian Lindmeier, berbicara dari Geneva pada Selasa 6 Oktober 2026, meredam kepanikan itu. Semua kontak erat Shipilova sudah diobservasi. Tidak ada satu pun yang menunjukkan gejala. Insiden ini tidak berkembang jadi wabah.
Ironisnya, tepat saat dunia bereaksi terhadap insiden Irkutsk, komunitas ilmiah sedang menyerap temuan dari dua studi genomik besar yang muncul dalam beberapa bulan terakhir. Keduanya bicara soal satu hal: Yersinia pestis jauh lebih purba dan lebih mematikan dari yang kita bayangkan.
Studi pertama terbit di jurnal Nature pada 17 Juni 2026, dari tim peneliti internasional yang menggali DNA kuno dari sisa-sisa manusia di empat situs pemakaman di sekitar Danau Baikal, Siberia Timur. Mereka menemukan Yersinia pestis pada 18 dari 46 sampel yang diuji. Tingkat deteksi hampir 40 persen. Yang mengejutkan, sampel itu berasal dari komunitas pemburu-pengumpul yang hidup sekitar 5.500 tahun lalu, ribuan tahun sebelum kota-kota pertama berdiri.
Selama ini ada asumsi yang cukup kuat di kalangan ilmuwan bahwa epidemi pes butuh kepadatan populasi sebagai bahan bakar. Logikanya masuk akal: lebih banyak orang, lebih mudah menular. Temuan di Danau Baikal membantah asumsi itu mentah-mentah. Wabah sudah mampu menggasak komunitas kecil yang tersebar luas, jauh sebelum era pertanian, jauh sebelum ada kota.
Korban terbanyak adalah anak-anak berusia 8 hingga 11 tahun. "Jumlah anak amat tinggi dan rentang waktu singkat merupakan teka-teki yang kami coba pecahkan sejak 1990-an. Menemukan wabah penyakit adalah penyebabnya luar biasa, tetapi itu amat masuk akal," kata arkeolog Andrzej Weber dari Universitas Alberta. Kini jawabannya ada di data genomik.
Apakah strain kuno itu ringan atau ganas? Perdebatan itu sudah ada lama. "Temuan kami menunjukkan strain kuno tersebut sudah sangat mematikan," kata penulis senior Eske Willerslev, Profesor di Universitas Kopenhagen dan Cambridge. Salah satu alasannya: keberadaan superantigen, faktor genetik yang tidak ditemukan pada strain wabah historis. Superantigen bisa memicu sistem imun bereaksi dengan intensitas yang justru merusak tubuh dari dalam, membuat infeksi berkali-kali lebih berbahaya. "Bahkan sebelum bakteri itu menular melalui kutu, strain kuno ini membawa kombinasi faktor virulensi ampuh yang bisa membuat infeksi amat mematikan," kata penulis senior lain, Associate Professor Martin Sikora dari Universitas Kopenhagen.
Bagaimana penyakit itu bisa sampai ke komunitas pemburu-pengumpul di Siberia? Para peneliti menduga lewat marmot, hewan pengerat besar penggali liang yang masih membawa pes hingga hari ini. Penularan langsung dari marmot yang terinfeksi ke manusia, bukan melalui kutu sebagaimana mekanisme yang lebih dikenal kemudian, agaknya jadi jembatan pertama antara bakteri ini dan spesies kita. Kalau dugaan ini benar, wabah sudah sanggup membunuh di komunitas manusia kecil ribuan tahun sebelum kutu dan kerumunan kota jadi soal.
Cerita tidak berhenti di Siberia purba. Studi kedua, dari tim Universitas Tartu di Estonia yang dipublikasikan September 2026, mengisi celah waktu antara wabah prasejarah dan Black Death yang meluluhlantakkan Eropa abad ke-14. Tim ini merekonstruksi 26 genom Yersinia pestis dari 11 situs arkeologi di Estonia, Rusia, Inggris, Belanda, dan Swiss, mencakup sampel dari abad ke-14 hingga ke-18.
Hasilnya menggugurkan narasi sederhana bahwa Black Death datang sekali, pergi, lalu selesai. Wabah itu kembali berulang kali selama lebih dari empat abad setelah bencana 1347-1353, berevolusi menjadi garis keturunan baru, dan menyebar mengikuti jalur perdagangan, migrasi, serta peperangan. Estonia, sebagai simpul koneksi Eropa Utara, dihajar gelombang demi gelombang. Sekitar tahun 1450-1500, garis keturunan wabah pecah jadi tiga cabang besar, masing-masing membentuk reservoir baru pada populasi hewan pengerat liar.
"Kami menemukan bukti penyebaran wabah berulang kali ke Estonia sejak akhir abad ke-14 dan mengidentifikasi beberapa garis keturunan genetik yang sebelumnya tidak diketahui, baik di lingkungan perkotaan maupun perdesaan," kata penulis senior Prof. Kristiina Tambets.
Gabungkan dua studi ini dengan insiden Irkutsk, dan gambarannya berat. Bukan main. Yersinia pestis bukan artefak sejarah. Bakteri ini hidup di reservoir hewan pengerat liar di Asia Tengah, Afrika, dan Amerika Selatan hingga sekarang. WHO mencatat sebagian besar kasus manusia sejak 1990-an terjadi di Afrika, dengan Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, dan Peru sebagai negara dengan endemisitas tertinggi. Tanpa pengobatan, rasio kematian untuk bentuk pneumonik dan septikemik bisa mencapai 30-100 persen.
Bahwa seorang peneliti di laboratorium keamanan tinggi pun bisa jadi korban, entah kebetulan atau tidak, mungkin itulah pengingat paling tidak nyaman dari seluruh episode ini.