Ancaman itu disampaikan tanpa basa-basi, dan kali ini nadanya berbeda dari gertakan-gertakan sebelumnya.
Akram al-Kaabi, Sekretaris Jenderal Harakat Hezbollah al-Nujaba, menegaskan kelompoknya siap berhadapan langsung dengan pasukan Amerika Serikat apabila Washington tidak menarik seluruh tentaranya dari Irak paling lambat 30 September 2026. Bukan sekadar peringatan, al-Kaabi menyebut pihaknya telah bersiap penuh menghadapi apa yang ia namai "pertempuran menentukan", termasuk jika AS ngotot mempertahankan akses udara di atas Irak.
"Jika setelah tanggal itu masih ada satu saja tentara Amerika yang tersisa, kami tidak akan membiarkannya kembali dengan selamat. Kami akan mengirimnya kembali kepada mereka sebagai mayat yang tidak bernyawa," kata al-Kaabi, sebagaimana dikutip Iran International dan Fars News Agency, Rabu, 3 September.
Tak berhenti di situ. Al-Kaabi sekaligus menyasar Donald Trump secara personal. "Delusi bodoh Trump adalah bahwa setelah gagal meraih kemenangan melawan Republik Islam Iran, ia akan meraih kemenangan di Irak. Namun kami tidak akan membiarkan kemenangan seperti itu terjadi baginya, bahkan di tingkat media sekalipun," ujarnya. Dengan kata lain, al-Kaabi membaca manuver Washington sebagian sebagai operasi pencitraan, dan ia tidak mau ada ruang bahkan untuk itu.
Pertanyaannya, kenapa tenggat 30 September ini begitu krusial?
Sebelumnya, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi telah menyampaikan kepada Trump bahwa seluruh pasukan koalisi pimpinan AS, yang awalnya hadir untuk menumpas ISIS, dijadwalkan hengkang pada tanggal tersebut. Trump mengamini. Di Gedung Putih, ia menyatakan AS tidak lagi merasa perlu mempertahankan kehadiran militer besar di sana. Al-Zaidi bahkan menyebut 30 September sebagai hari nasional, hari kedaulatan, dan hari bersejarah bagi rakyat Irak, satu momen untuk menyempurnakan kendali Baghdad atas seluruh wilayahnya.
Tapi komitmen Washington tetap diragukan sebagian kalangan. Jawad al-Saadi, anggota Komisi Keamanan dan Pertahanan Parlemen Irak, secara terbuka mempertanyakan keseriusan AS untuk benar-benar angkat kaki. Bisa dipahami, sekitar 2.500 tentara AS sempat beroperasi di sana, dan jumlahnya baru menyusut dalam beberapa bulan terakhir.
Latar belakangnya lebih gelap dari sekadar urusan bilateral. Ketegangan AS-Iran kembali memanas. Fasilitas-fasilitas Amerika di sejumlah negara kawasan diserang, Washington membalas ke target militer Iran. Irak, seperti selalu, terjepit di tengah. Kelompok-kelompok bersenjata pro-Tehran beroperasi di dalam maupun di luar struktur keamanan resmi negara itu. Laporan Combating Terrorism Center di West Point mencatat kapasitas mereka untuk menghantam kepentingan AS, dan rekam jejaknya sudah teruji, di Irak, Suriah, serta berbagai sudut kawasan.
Al-Nujaba sendiri masuk daftar hitam Washington sejak 2019, ditetapkan sebagai Specially Designated Global Terrorists bersama al-Kaabi, atas dugaan keterlibatan dalam aksi kekerasan terhadap kepentingan Amerika. Status itu agaknya tidak membuat al-Kaabi menahan lidah, justru sebaliknya.
Tiga minggu sebelum tenggat. Jam terus berdetak.