KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Aktivis GSF Dipukuli Polisi Usai Bebas dari Tahana...

Internasional

Aktivis GSF Dipukuli Polisi Usai Bebas dari Tahanan Israel

Para aktivis Global Sumud Flotilla yang baru dibebaskan dari tahanan Israel justru disambut kekerasan polisi Basque setibanya di Bandara Bilbao, Spanyol. Sementara aktivis asal Afrika Selatan melaporkan penyiksaan selama di penjara Israel.

Aktivis Armada Global Sumud Disambut Haru Setibanya di Spanyol

Belum sehari bebas dari tahanan Israel, para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) sudah harus menghadapi kekerasan baru, kali ini dari aparat negeri sendiri.

Tunggu. Em dash itu harus pergi.

Belum sehari bebas dari tahanan Israel, para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) kena masalah lagi, kali ini dari aparat negeri sendiri. Di Bandara Bilbao, Basque, Spanyol, Sabtu (23/5/2026), pasukan kepolisian otonom Ertzaintza memukuli sejumlah aktivis yang baru mendarat, termasuk mereka yang masih menanggung luka fisik dari masa penahanan.

Insiden bermula dari hal yang sebetulnya sangat manusiawi: seorang anggota keluarga yang sudah menunggu cemas di terminal kedatangan berusaha melewati pembatas untuk merangkul kerabatnya. Ertzaintza merespons dengan kekerasan fisik. Dalam hitungan menit, momen reuni yang seharusnya jadi pelepas trauma berubah mencekam. Setidaknya empat orang ditangkap, tiga di antaranya peserta flotilla, dan digelandang ke kantor polisi Deusto di Bilbao.

Manajemen kampanye GSF mengutuk keras tindakan itu. Pengerahan kekuatan berlebih terhadap warga negara yang sedang dalam kondisi luka medis akut, kata mereka, adalah kegagalan mendasar dari nilai kemanusiaan. Beberapa korban pemukulan bahkan baru saja keluar dari fasilitas medis sebelum naik pesawat pulang.

Di ujung bumi lain, ceritanya tak lebih ringan. Aktivis asal Afrika Selatan yang tergabung dalam misi yang sama tiba kembali di Cape Town pada hari yang sama, disambut keluarga dan pendukung pro-Palestina. Tapi yang mereka bawa pulang bukan sekadar kenangan buruk.

Para aktivis itu menuding pasukan Israel melakukan pemukulan dan penyiksaan selama masa penahanan, termasuk sengatan listrik saat diinterogasi soal keterlibatan mereka dalam misi kemanusiaan. Bukan tuduhan ringan. Mereka ditahan di penjara K'tziot di Israel selatan setelah flotilla yang terdiri dari 50 kapal itu dicegat di perairan internasional, sekitar 250 mil dari pantai Israel, saat berupaya menembus blokade Gaza.

Pemerintah Israel membantah seluruh tuduhan itu, menyebutnya "salah dan sama sekali tidak berdasar." Klaim yang, agaknya, tidak akan begitu saja ditelan mentah-mentah oleh mereka yang pulang dengan tubuh penuh memar.

Dua negara, dua bandara, satu cerita yang sama: aktivis kemanusiaan pulang ke rumah, tapi luka belum selesai di sana.