Hampir dua milenium teks itu terkubur dalam abu, hangus menjadi gumpalan karbon keras yang bahkan tidak berani disentuh sembarangan. Kini para ilmuwan akhirnya bisa membacanya, tanpa menyentuh satu helai papirus pun.
Pada 25 Juni lalu, tim riset internasional di balik Vesuvius Challenge mengumumkan apa yang mereka sebut "terobosan bersejarah": dua gulungan papirus kuno dari Herculaneum berhasil diuraikan secara virtual lewat kecerdasan buatan. Gulungan pertama, PHerc. 1667, dibuka penuh secara digital untuk pertama kalinya dalam sejarah, mengungkap teks Yunani sepanjang hampir 1,5 meter yang terbagi dalam 20 kolom tulisan. Gulungan kedua, PHerc. 172, menghasilkan lebih dari 70 kolom teks yang berhasil dipulihkan.
Gulungan-gulungan ini bagian dari sekitar 1.800 manuskrip yang ditemukan seorang petani Italia pada abad ke-18 di sebuah vila mewah Herculaneum, kota Romawi yang terkubur bersama Pompeii saat Gunung Vesuvius meletus pada 79 Masehi. Vila itu diyakini dulunya milik ayah mertua Julius Caesar, dan koleksi naskahnya hingga kini menjadi satu-satunya perpustakaan berskala besar dari era Yunani-Romawi kuno yang masih eksis.
Selama ratusan tahun, persoalannya satu: gulungan yang telah mengeras ini terlalu rapuh untuk dibuka. Zat kimia sudah dicoba. Gas juga. Bahkan teknik penghancuran menjadi bubuk. Semuanya berakhir merusak. PHerc. 1667 sendiri pernah dicoba dibuka sebagian pada 1980-an, namun lapisan yang saling menempel membuat tulisannya mustahil terbaca, sehingga gulungan ini mendapat skor keterbacaan nol.
Vesuvius Challenge, yang diinisiasi tahun 2023 oleh Brent Seales dari University of Kentucky bersama dua pengusaha teknologi Nat Friedman dan Daniel Gross, menawarkan pendekatan yang berbeda total. Gulungan dipindai menggunakan synchrotron untuk menghasilkan CT scan resolusi tinggi, yang kemudian diproses algoritma machine learning untuk mendeteksi perbedaan tekstur mikro pada papirus dan melacak sisa-sisa tinta hitam yang nyaris tak terlihat mata. Setelah setiap lapisan gulungan yang melengkung berhasil dipetakan, peneliti meratakannya secara digital sebelum AI mengenali jejak-jejak tulisan di atasnya.
"Selama hampir dua milenium, banyak naskah ini secara fisik terawetkan tapi secara intelektual tidak bisa diakses," kata Seales dalam pernyataan resmi. "Hari ini, setelah bertahun-tahun melakukan kerja interdisipliner yang menggabungkan pencitraan canggih, AI, riset akademis, dan kompetisi inovasi, akhirnya kami bisa membacanya."
Federica Nicolardi, asisten profesor papirologi dari Universitas Napoli Federico II yang memimpin proses interpretasi teks, menyebut perubahan ini sebagai sesuatu yang transformatif. Bayangkan: dari gulungan yang pada 1980-an hanya memperlihatkan beberapa huruf terisolasi karena lapisan-lapisan yang saling menempel mengaburkan tulisan lain, kini argumen filosofis yang utuh bisa terbaca dalam beberapa kolom sekaligus.
Dan isi teksnya tidak kalah mengejutkan dari proses menemukannya. Gaya tulisan tangan serta referensi internal dalam PHerc. 1667 menunjukkan naskah ini berasal dari abad kedua atau bahkan akhir abad ketiga sebelum Masehi, menjadikannya salah satu gulungan tertua dalam koleksi Herculaneum. Terlalu tua untuk berasal dari Philodemus, filsuf Epikurean abad pertama SM yang karya-karyanya selama ini mendominasi perpustakaan tersebut.
Para ahli justru menduga ini risalah Stoik, agaknya dari lingkaran Chrysippus, filsuf paling berpengaruh dalam tradisi itu yang hampir tidak meninggalkan tulisan asli yang bertahan hingga kini. Nama Aristocreon, keponakan sekaligus murid Chrysippus, disebut secara eksplisit dalam teks. Kalau atribusi ini kelak terbukti, temuan ini bisa menjadi salah satu penambahan paling krusial bagi catatan sejarah pemikiran Stoik awal dalam beberapa dekade terakhir.
Isinya pun terasa relevan secara mengejutkan. Teks membahas konsep "horme" atau dorongan diri dalam filsafat Stoik, dengan peringatan bahwa ketidakmampuan mengontrol perilaku dapat memicu hasrat yang merugikan. Ada juga pembahasan "phronesis", kebijaksanaan praktis yang dianggap kebajikan tertinggi dalam tradisi Stoik. Salah satu kalimat yang berhasil diterjemahkan berbunyi: "Kita akan menyelidiki sesuatu, tetapi kita tidak akan bisa memahaminya, jika dalam beberapa hal kita menjauh dari diri kita sendiri dan dari kodrat kita sendiri."
Di luar dua gulungan utama itu, peneliti juga mengidentifikasi judul baru dalam gulungan PHerc. 139, yang mengungkap bahwa karya Philodemus bertajuk "On Gods" ternyata membentang setidaknya hingga delapan jilid, jauh lebih panjang dari yang sebelumnya diketahui.
Lebih dari 600 gulungan Herculaneum masih belum tersentuh. Pertanyaannya sederhana, dan berat: berapa banyak karya yang selama ini dianggap hilang selamanya ternyata masih menunggu di dalam gumpalan-gumpalan karbon itu?