KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Afghanistan 2026: Saat Ayah Terpaksa Menjual Anak...

Internasional

Afghanistan 2026: Saat Ayah Terpaksa Menjual Anak demi Sesuap Nasi

Krisis kelaparan terparah dalam sejarah Afghanistan memaksa para ayah di Provinsi Ghor menjual anak kandung mereka. PBB hanya mampu menjangkau 27% dari target penerima bantuan, sementara dana internasional yang terkumpul baru 11% dari kebutuhan.

A man wearing a pink turban cuddles his small daughter close in front of a cracked mud wall

Setiap fajar di alun-alun berdebu Chaghcharan, ibu kota Provinsi Ghor, ratusan pria berbaris di tepi jalan dengan satu tujuan yang sama: mendapat pekerjaan hari itu, apa pun bentuknya. Dalam dua jam pemantauan langsung BBC di lokasi tersebut bulan ini, hanya tiga orang yang pulang membawa rezeki.

Juma Khan, 45 tahun, sudah tiga malam tidak bisa memberi makan anak-anaknya. Dalam enam minggu terakhir, ia hanya berhasil mendapat tiga hari kerja, dengan upah 150 hingga 200 Afghani, sekitar Rp41.000 hingga Rp55.000 per hari. "Istri saya terus menangis, begitu juga anak-anak saya," ungkapnya. "Saya sampai harus mengemis pinjaman tepung kepada tetangga. Saya hidup dalam ketakutan bahwa anak-anak saya akan mati kelaparan."

Ketakutan itu bukan paranoia. Afghanistan kini mencatat tingkat kelaparan tertinggi sepanjang sejarahnya, dengan 4,7 juta jiwa, lebih dari sepersepuluh populasi negara itu, berada selangkah dari kelaparan massal. Tiga perempat warga Afghanistan, menurut data PBB, tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Di perbukitan gersang sekitar Chaghcharan, nestapa itu mengambil bentuk yang lebih memilukan. Abdul Rashid Azimi membawa keluar dua putri kembarnya yang berusia tujuh tahun, Roqia dan Rohila, lalu dengan suara bergetar mengucapkan kalimat yang tak seharusnya pernah keluar dari mulut seorang ayah. "Saya bersedia menjual putri-putri saya," katanya sambil menangis. "Saya miskin, terlilit utang, dan tidak berdaya. Saya pulang dari kerja dengan bibir kering, lapar, haus, tertekan, dan bingung. Anak-anak saya datang kepada saya mengatakan 'Baba, beri kami roti'. Tapi apa yang bisa saya berikan?"

Ia bersiap melepas anak gadisnya, entah untuk dinikahkan atau dijadikan pembantu rumah tangga. Logikanya tragis tapi sederhana: "Jika saya menjual satu anak, uangnya bisa menghidupi anak-anak saya yang lain setidaknya untuk empat tahun ke depan."

Kasus lain bahkan lebih menusuk. Saeed Ahmad menjual putrinya yang baru berusia lima tahun, Shaiqa, setelah bocah itu didiagnosis menderita usus buntu dan kista hati. Tidak ada pilihan lain. Shaiqa dijual kepada seorang kerabat seharga 200.000 Afghani, sekitar Rp56 juta. Kesepakatannya: sisa pembayaran dicicil dalam lima tahun, dan baru setelah itu sang kerabat boleh membawa anak itu pergi. Operasinya sukses. "Jika saya punya uang, saya tidak akan pernah mengambil keputusan ini," kata Saeed. "Tapi saat itu saya berpikir, bagaimana jika dia meninggal karena tidak dioperasi? Setidaknya, dengan cara ini, dia tetap hidup."

Bagaimana Afghanistan sampai di titik ini? Jawabannya berlapis.

Pemangkasan bantuan internasional secara masif menjadi faktor paling langsung. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi donor terbesar, memutus hampir seluruh bantuannya tahun lalu. Negara-negara donor utama lain, termasuk Inggris, mengikuti jejak serupa. Hasilnya brutal: realisasi bantuan tahun ini anjlok 70% dibanding 2025. Dari kebutuhan dana USD1,7 miliar, sekitar Rp27,2 triliun, yang diidentifikasi OCHA, dana yang terkumpul baru menyentuh USD195 juta, alias 11% dari total kebutuhan. Program OCHA yang semula menargetkan 17,5 juta penerima bantuan baru menjangkau sekitar 4,7 juta orang, 27% dari target. Angka yang tidak main-main.

Di atas itu, kekeringan ekstrem kini melanda lebih dari separuh provinsi di negara tersebut. Bencana lain turut menambah beban: sejak awal 2026, banjir bandang dan cuaca ekstrem telah menewaskan 285 orang dan melukai 354 lainnya, merusak lahan pertanian, infrastruktur, dan menghanyutkan hewan ternak warga.

Pemerintah Taliban, yang berkuasa sejak 2021, menuding rezim sebelumnya sebagai biang keladi. "Selama 20 tahun masa pendudukan, roda ekonomi yang tercipta bersifat semu karena arus masuk dolar AS," ujar Hamdullah Fitrat, wakil juru bicara Taliban. "Setelah pendudukan berakhir, yang diwariskan kepada kami hanyalah kemiskinan, kesengsaraan, pengangguran, dan berbagai masalah lainnya."

Tapi para donor internasional punya versi lain. Kebijakan Taliban yang membatasi hak-hak perempuan, termasuk larangan sekolah dan bekerja, menjadi alasan utama mengapa mereka menarik dukungan. Taliban menolak bertanggung jawab, menyebut bantuan kemanusiaan "semestinya tidak dipolitisasi", sambil memamerkan proyek infrastruktur dan pertambangan sebagai solusi jangka panjang. Pertanyaannya, siapa yang memberi makan jutaan perut yang kosong hari ini?

Bukti paling gamblang ada di rumah sakit provinsi Chaghcharan. Unit neonatus penuh sesak, beberapa ranjang memuat dua bayi sekaligus. Sebagian besar lahir dengan berat badan rendah karena ibu mereka selama hamil nyaris tidak makan selain roti dan teh. Angka kematian bayi di unit itu kini mencapai 10%, angka yang oleh kepala unit Dr. Muhammad Mosa Oldat disebut "sangat tidak bisa diterima". Ironisnya, rumah sakit pemerintah ini tidak punya stok obat yang memadai. Keluarga pasien harus beli sendiri di apotek luar. Kalau tidak mampu, tim medis kadang meminjam sisa obat dari pasien lain yang lebih beruntung.

Beberapa jam setelah tim BBC meninggalkan rumah sakit, salah satu bayi kembar prematur yang baru mereka liput mengembuskan napas terakhir, bahkan sebelum sempat diberi nama. Ibunya pingsan saat mendengar kabar itu.

Di kompleks pemakaman sekitar Chaghcharan, ada cara hitung yang menyeramkan. Jumlah makam berukuran kecil hampir dua kali lipat makam dewasa. Tidak ada catatan resmi kematian di sini, tapi batu nisan kecil-kecil itu bercerita lebih keras dari statistik mana pun.