Suhu di ruang perawatan Rumah Sakit Saint-Louis Paris sempat menyentuh 32 derajat Celsius pekan lalu. Bukan di luar gedung, bukan di lorong, eh, bukan. Di tempat pasien berbaring.
Itulah yang mendorong Prancis bergerak cepat. Pemerintah mengumumkan pengadaan 30.000 unit AC untuk rumah sakit di seluruh negeri, dengan sekitar 1.000 unit dijadwalkan tiba di fasilitas kesehatan kawasan Paris sebelum akhir pekan ini. Jaringan Rumah Sakit Umum Paris, AP-HP, tidak menunggu giliran: mereka sudah membeli dan memasang 800 unit sejak akhir musim panas 2025 hingga pertengahan 2026, lalu menambah 1.000 unit lagi dalam tempo kurang dari sepekan. AP-HP berharap biaya itu kelak diganti pemerintah pusat.
Kepala Departemen Hematologi Saint-Louis, Emmanuel Raffoux, menjelaskan situasinya dengan lugas. Tubuh pasien sudah mengalami tekanan akibat gelombang panas pertama dan sedang berjuang pulih, sementara ancaman gelombang kedua sudah menanti. "Saya pikir ini sangat penting dan benar-benar diperlukan untuk menghadapi gelombang panas kedua, terutama jika terjadi dalam waktu yang berdekatan," katanya. Bukan lebay. Prancis sudah mencatat sekitar 1.000 kematian tambahan selama gelombang panas Juni 2026, ketika suhu melampaui 40 derajat Celsius. Sebagian besar korban: lansia.
Sepanjang musim panas ini, banyak wilayah Prancis rutin mencetak suhu di atas 35 derajat Celsius. Kondisi serupa menjalar ke Eropa tengah dan utara, kawasan yang secara historis tidak dirancang untuk panas semacam ini. Andreas Flouris, profesor fisiologi dari University of Thessaly Yunani, mencatat tren yang mengkhawatirkan: peningkatan kecelakaan akibat panas justru paling tajam bukan di selatan, melainkan di negara-negara yang selama ini dianggap "aman" dari cuaca ekstrem. Laporan European Trade Union Institute mempertebal kekhawatiran itu dengan angka yang gamblang: sekitar 130 juta pekerja Eropa terpapar stres panas saat bekerja, memicu 277.000 kecelakaan kerja dan 230 kematian per tahun.
130 juta pekerja. Angka yang tidak main-main.
Namun ada ketimpangan yang sulit diabaikan. Rumah tangga berpenghasilan tinggi punya pilihan: insulasi lebih baik, pompa panas efisien, atau sekadar kabur ke rumah kedua di pegunungan. Warga berpenghasilan rendah? Terjebak di apartemen lantai atas dengan insulasi amburadul, berstatus penyewa yang tidak bisa memasang AC permanen tanpa restu pemilik gedung, lalu dihajar tarif listrik yang melonjak tiap musim panas. Aliansi politik DIEM25 pimpinan mantan Menteri Keuangan Yunani Yannis Varoufakis menyebutnya tanpa basa-basi: "Panas ini bukan hanya keadaan darurat iklim, tetapi juga perang kelas."
Keras. Tapi kalau data ini bisa dipercaya, sulit membantahnya. Kesejukan kini punya harga yang tidak semua orang sanggup bayar.
Perdebatan ini kini masuk ruang parlemen Eropa. Lena Schilling dari Partai Hijau Austria berpendapat bahwa melepas masyarakat bergantung sepenuhnya pada kemampuan beli AC pribadi bukan solusi yang adil, khususnya bagi lansia, anak-anak, dan pasien di fasilitas publik. Ondrej Knotek dari Republik Ceko bahkan mendorong agar pemerintah aktif mempromosikan pendingin ruangan sebagai strategi adaptasi iklim resmi. Di Prancis sendiri, Marine Le Pen mengusulkan subsidi besar-besaran untuk pemasangan AC. Yang lebih mengejutkan: Partai Hijau Prancis, yang bertahun-tahun getol menentang AC sebagai simbol pemborosan energi, mulai melunak. Pemimpin mereka, Marine Tondelier, mengakui bahwa perangkat yang beberapa tahun lalu dianggap mewah kini sudah bergeser jadi kebutuhan. Pergeseran sikap yang, entah kebetulan atau tidak, terjadi tepat saat Eropa menanggung musim panas terpanas dalam sejarah modernnya.
Tetapi ada paradoks yang tidak bisa ditutup-tutupi. Semakin banyak AC menyala, semakin besar konsumsi listrik saat sistem kelistrikan sedang paling tertekan. Bila pasokan listrik itu masih bersumber dari bahan bakar fosil, setiap derajat kesejukan di dalam ruangan berarti emisi tambahan di luar. Belum lagi potensi kebocoran refrigeran yang turut menyumbang efek rumah kaca. Jutta Paulus dari Jerman mengusulkan jalan tengah: AC boleh, tapi harus berstandar efisiensi tinggi, ditenagai energi terbarukan, dan menggunakan refrigeran ramah iklim.
Mudah diucapkan. Jauh lebih sulit dieksekusi ketika gelombang panas sudah di ambang pintu dan rumah sakit masih kepanasan.