SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  920 Tewas, 50.000 Hilang: Venezuela Dihajar Gempa...

Ekonomi

920 Tewas, 50.000 Hilang: Venezuela Dihajar Gempa Doblet Terburuk dalam Seabad

Dua gempa bermagnitudo 7,2 dan 7,5 yang menghantam Venezuela dalam selang 39 detik meluluhlantakkan kawasan pesisir utara Caracas. Korban tewas mendekati 1.000 jiwa dan lebih dari 50.000 orang masih dilaporkan hilang.

Foto-foto Satelit Sebelum dan Sesudah Gempa Ganda di Venezuela

Hampir 1.000 orang tewas. Angka itu belum final, dan kemungkinan besar belum akan final dalam waktu dekat.

Dua gempa yang menghantam Venezuela pada Rabu (24/6/2026) dalam selang 39 detik kini resmi masuk daftar bencana alam paling mematikan di negara itu dalam lebih dari seratus tahun. Gempa pertama, magnitudo 7,2, berpusat sekitar 23,9 kilometer di timur laut San Felipe, Negara Bagian Yaracuy. Tiga puluh sembilan detik kemudian, magnitudo 7,5 menyusul, berpusat sekitar 23 kilometer di tenggara Kota Yumare di wilayah yang sama. Keduanya lahir dari patahan San Sebastian di pantai utara Venezuela.

Presiden Majelis Nasional Jorge Rodriguez mengonfirmasi pada Jumat (26/6/2026): 920 tewas, 3.360 luka-luka. Lebih dari 50.000 orang masih dilaporkan hilang. Angka terakhir itulah yang paling bikin dada sesak.

Kawasan La Guaira di pesisir utara Caracas jadi zona kehancuran paling dalam. Gudang, apartemen, resor, terminal kontainer, rata dengan tanah. Citra satelit dari Vantor yang dirilis AFP memperlihatkan betapa drastisnya perubahan kawasan itu hanya dalam hitungan jam. Ribuan warga yang kehilangan atap kepala tidur di taman, alun-alun, dan bahu jalan. Sebagian nekad mengungsi sejauh 1.700 kilometer ke wilayah Amazon di Brasil.

Presiden interim Delcy Rodriguez menetapkan La Guaira sebagai zona bencana. Posisinya sekitar 165 kilometer dari pusat gempa, tapi kehancurannya masif. Pemerintah mengalokasikan 200 juta dolar AS untuk rekonstruksi rumah sakit dan permukiman. Angka yang terdengar besar, tapi bisa jadi masih jauh dari cukup mengingat skala kerusakannya.

Kendala terbesar bukan soal koordinasi. Alat berat, itulah masalahnya. Tanpa ekskavator yang memadai, warga turun tangan sendiri, memecahi lempengan beton dengan palu dan peralatan seadanya. Nazareth Jimenez, warga La Guaira, menangis di depan reruntuhan tempat saudara dan teman-temannya diduga masih terkubur. "Ya Tuhan, bagaimana kita akan mengeluarkan mereka dari sana? Masih ada orang yang hidup di sana," ucapnya.

Jendela 48-72 jam sudah hampir habis. Setiap jam yang berlalu menggerus peluang menemukan korban selamat. "Setiap orang yang diselamatkan adalah sebuah keajaiban. Kami tidak akan menyembunyikan apa pun tentang besarnya tragedi ini," kata Jorge Rodriguez.

Bantuan internasional mengalir deras. Amerika Serikat mengirim 150 juta dolar AS lewat PBB dan mitra nirlaba, plus dua tim pencarian dan penyelamatan perkotaan. Brasil menerbangkan pesawat KC-390 dari Sao Paulo membawa puluhan petugas pemadam kebakaran dan spesialis telekomunikasi; pesawat kedua dijadwalkan berangkat Sabtu dengan 100 alat pemurnian air bertenaga surya dan perlengkapan medis. Uni Eropa mengerahkan 520 petugas tanggap darurat dari delapan negara anggota. Inggris menurunkan 68 personel pencarian dan penyelamatan, pesawat Voyager, drone pemetaan, plus bantuan senilai 2 juta pound sterling. India, Turki, dan China turut serta.

Pada Jumat malam, satu gempa susulan berkekuatan magnitudo 4,7 kembali mengguncang, berpusat sekitar 54 kilometer di utara El Limon pada kedalaman 10 kilometer. USGS memperkirakan peluang gempa susulan di atas magnitudo 6,0 dalam sepekan ke depan masih sekitar delapan persen. Bukan nol.

IOM memperkirakan hingga 6,76 juta orang terdampak, sekitar 2 juta di antaranya di Caracas. Venezuela kini bertumpu sepenuhnya pada solidaritas dunia, dan pertanyaannya, seberapa lama solidaritas itu bisa menopang negara yang sudah lama terseok sebelum bencana ini datang.