Sembilan puluh nyawa. Dalam satu malam.
Ledakan gas yang menghantam tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, Jumat (22/5/2026) pukul 19.30 waktu setempat, langsung mencatatkan dirinya sebagai bencana pertambangan paling mematikan di China dalam 17 tahun terakhir.
Saat ledakan terjadi, 247 pekerja sedang berada di bawah tanah. Hingga Sabtu pagi pukul 06.00 waktu setempat, sebanyak 201 orang berhasil dievakuasi setelah Biro Manajemen Darurat Kabupaten Qinyuan mengerahkan 400 hingga 500 personel penyelamat. Sembilan pekerja lainnya masih dinyatakan hilang, dan operasi pencarian belum dihentikan.
Penyebab pasti ledakan masih diselidiki. Tapi gambaran awalnya sudah cukup suram: kadar karbon monoksida di dalam tambang dilaporkan telah melampaui batas sebelum insiden terjadi. Sirkulasi udara di sana memang buruk, aksesnya cuma setapak sempit untuk pejalan kaki dan rel kecil pengangkut barang. Kondisi seperti ini, agaknya, sudah lama dipahami tapi dibiarkan.
Perusahaan pengelola tambang, Shanxi Tongzhou Group Liushenyu Coal Industry, terkesan lepas tangan di awal. Seorang petugas yang dihubungi CNN International mengaku tidak tahu situasinya, lalu menutup sambungan telepon begitu saja. Sikap yang, setidaknya itu klaim mereka, susah diterima mengingat skala bencana yang sudah terjadi. Aparat China kemudian menahan sejumlah pejabat Tongzhou Group, meski tidak dirinci berapa orang dan siapa saja yang diamankan.
Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang sama-sama turun tangan. Xi memerintahkan operasi penyelamatan besar-besaran dan meminta evakuasi tidak dihentikan sampai semua korban ditemukan, sekaligus mendesak investigasi menyeluruh dengan pertanggungjawaban yang ditegakkan sesuai hukum. "Semua wilayah dan departemen harus mengambil pelajaran dari kecelakaan ini, tetap waspada terhadap keselamatan kerja, melakukan investigasi menyeluruh, memperbaiki semua jenis risiko dan bahaya tersembunyi, serta dengan tegas mencegah dan menekan terjadinya kecelakaan besar dan serius," ujar Xi sebagaimana disiarkan Xinhua.
Shanxi bukan provinsi sembarangan. Tambang-tambangnya menyumbang sekitar 33 persen produksi batu bara nasional China, dengan output mencapai 1,17 miliar metrik ton pada 2025. Ironis, karena Shanxi sekaligus tercatat sebagai salah satu provinsi termiskin di negara itu. Batu bara mengalir deras ke seluruh penjuru China dari sini, tapi kesejahteraan tidak selalu ikut mengalir ke para pekerjanya.
Bencana ini jauh melampaui tragedi tambang Mongolia Dalam pada Februari 2023 yang merenggut 53 nyawa akibat longsor. Untuk menemukan skala yang sebanding, kita harus mundur ke 2009, ketika ledakan di Provinsi Heilongjiang merenggut 108 jiwa sekaligus. Badan Keselamatan Tambang Nasional China mencatat lebih dari 3.000 kecelakaan tambang terjadi antara 2010 hingga 2025, dengan kerugian langsung mencapai 10 miliar yuan. Kerugian tidak langsung, termasuk hilangnya penghasilan dan peluang ekonomi, diperkirakan jauh lebih besar.
China terus mendorong transisi energi terbarukan dengan kecepatan yang membuat banyak negara lain terengah-engah mengejar. Tapi selama permintaan batu bara masih setinggi ini, dan selama standar keselamatan di lapangan tidak benar-benar digigit serius, tragedi seperti Liushenyu bukan soal apakah akan terulang. Pertanyaannya cuma kapan.