JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  80 Tahun BNI: Laba Rp20 T, Transformasi Digital, d...

Finansial

80 Tahun BNI: Laba Rp20 T, Transformasi Digital, dan Program CX100 Danantara

Di usia 80 tahun, BNI membukukan laba bersih Rp20 triliun sepanjang 2025 dan menorehkan Rp9,05 triliun hanya dalam lima bulan pertama 2026, didukung transformasi digital dan program CX100 Danantara.

Momentum 8 Dekade BNI, Transformasi Perkuat Kinerja & Daya Saing

Delapan dekade bukan angka kecil. Per akhir Mei 2026, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sudah menggenggam total aset Rp1.365,36 triliun dengan dana pihak ketiga sebesar Rp1.063,92 triliun. Laba bersih lima bulan pertama tahun ini? Rp9,05 triliun, dengan ekuitas Rp160,99 triliun.

Angka-angka itu bukan sekadar pelengkap perayaan HUT ke-80 yang jatuh 5 Juli mendatang. Ini cerminan agenda transformasi yang sudah berjalan bertahun-tahun dan kini mulai terasa buahnya.

Sepanjang 2025, BNI membukukan laba bersih Rp20 triliun, disertai perbaikan kualitas aset yang cukup berarti. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto turun ke 1,9%, sementara loan at risk (LaR) membaik ke 8,5%. Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan bukan semata soal mengejar angka, melainkan membangun fondasi yang tahan terhadap tekanan. "Transformasi yang kami jalankan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kinerja bisnis, tetapi juga memperkuat kemampuan perusahaan dalam menghadapi perubahan dan menangkap peluang pertumbuhan. Dengan fundamental yang semakin kuat, BNI dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi nasabah, masyarakat, dan perekonomian nasional," kata Paolo.

Dua mesin pertumbuhan digital patut dicermati. Di segmen ritel, wondr by BNI sudah digunakan lebih dari 12 juta nasabah hingga akhir 2025 dan menjadi penopang utama pertumbuhan tabungan serta dana murah perseroan. Di sisi korporasi, BNIdirect yang menyediakan layanan cash management, trade finance, bank guarantee, dan supply chain financing mencatat pertumbuhan pengguna sekaligus nilai transaksi lebih dari 25% secara tahunan sepanjang 2025, bak gayung bersambut dengan naiknya giro korporasi.

Transformasi BNI kali ini punya dimensi baru yang agaknya lebih dari sekadar upgrade teknologi. Melalui program CX100 Danantara, inisiatif Danantara Indonesia untuk mendongkrak kualitas layanan di ekosistem BUMN, BNI membangun tim lintas fungsi yang mencakup aspek People and Communication, Technology, Business Process, Operations and Services, hingga Voice of Customer. Direktur Human Capital and Compliance BNI Munadi Herlambang bilang bahwa keberhasilan transformasi bisnis tidak semata ditentukan teknologi dan produk. "People and Culture adalah fondasi utama pencapaian visi BNI. Oleh karena itu, transformasi bisnis harus didukung oleh transformasi budaya yang kuat," tegas Munadi.

BNI menginternalisasikan apa yang mereka sebut Marga Budaya: tiga pilar yakni SEVA (cara melayani), KARYA (cara berkinerja), dan RAKSA (cara menjaga), sebagai kerangka perilaku organisasi. Klaim yang masih perlu dibuktikan di level cabang, tapi arahnya jelas. Perseroan ingin membangun customer-centric culture, bukan sekadar menempel slogan layanan di dinding kantor.

Di sisi komunitas, BNI mengisi momentum HUT ke-80 dengan program wondrful Playdate KidZania, edukasi literasi keuangan interaktif untuk anak-anak TK dan SD. Direktur Consumer Banking BNI Corina Leyla Karnalies menyebut langkah ini sebagai bagian dari komitmen jangka panjang terhadap inklusi keuangan. "Delapan dekade perjalanan BNI menjadi pengingat bahwa kepercayaan masyarakat adalah amanah yang harus terus kami jaga. Karena itu, BNI akan terus beradaptasi, berinovasi, dan menghadirkan kontribusi yang relevan bagi kemajuan bangsa serta kesejahteraan masyarakat Indonesia," kata Corina.

BNI memang tidak berdiri sendirian dalam konteks transformasi ini. Kehadiran Danantara Indonesia sebagai pengelola investasi BUMN secara terintegrasi disebut manajemen sebagai katalis untuk penguatan tata kelola dan penciptaan nilai jangka panjang. Bukan sekadar holding yang mengumpulkan aset, setidaknya begitu klaimnya.

Pertanyaannya bukan apakah BNI bisa tumbuh. Seberapa kencang? Lima bulan pertama 2026 memberi sinyal positif, tapi satu tahun penuh baru akan membuktikan apakah momentum delapan dekade ini betul-betul jadi titik infleksi, entah kebetulan atau tidak, di saat persaingan digital makin brutal dan suku bunga global masih belum bisa ditebak.