SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  7.000 Nyawa Melayang: Eropa Barat Dihajar Gelomban...

Internasional

7.000 Nyawa Melayang: Eropa Barat Dihajar Gelombang Panas Terburuk

Gelombang panas ketiga menghantam Eropa Barat sejak Mei 2026, dengan total kematian di Prancis dan Jerman melampaui 7.000 jiwa. Paris pun lumpuh sebagian, dari Menara Eiffel hingga reaktor nuklir EDF.

Jelang Hari Kemerdekaan, Paris Dipanggang Suhu Panas

Tujuh ribu lebih nyawa melayang. Itulah tagihan yang harus dibayar Eropa Barat akibat gelombang panas yang kini memasuki babak ketiganya sejak Mei 2026, dan belum ada tanda-tanda kapan sengatan ini benar-benar akan reda.

Paris pada Minggu (12/7) mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius. BBC memperkirakan angka itu merangkak ke 36 derajat pada Senin dan Selasa, tepat ketika Prancis bersiap merayakan Hari Bastille. Ironis: momen puncak liburan nasional itu disambut peringatan kesehatan dari 24 wilayah yang berstatus siaga tertinggi, sementara 59 dari 96 provinsi Prancis daratan mendapat status "oranye", satu level di bawah maksimal.

Dampaknya langsung terasa di jantung pariwisata kota. Menara Eiffel tutup pukul 16.00, jauh lebih awal dari biasanya, tengah malam. Museum Louvre, yang tiap tahun dipadati jutaan pelancong dari seluruh penjuru dunia, menutup pintu di jam yang sama sejak Jumat hingga Senin pekan depan. Museum d'Orsay menyusul, tutup pukul 17.00 dari Sabtu hingga Rabu.

Lalu ada insiden yang benar-benar belum pernah terjadi sepanjang sejarah Tour de France. Etape Minggu yang seharusnya menempuh 185,5 kilometer dipangkas 30 kilometer dengan membuang lintasan perbukitan. Pertama kali dalam lebih dari satu abad. Pebalap Belgia Tim Merlier, pemenang etape Sabtu, bicara blak-blakan soal kondisi di lapangan: "Kita sudah satu pekan melakukan balap sepeda dengan suhu udara di atas 35 derajat celsius. Kita harus menyediakan pasokan air, es, minuman dari kendaraan pendukung pebalap."

Bukan cuma wisata dan olahraga yang babak belur. EDF, perusahaan utilitas listrik milik negara Prancis, terpaksa menghentikan operasi tiga reaktor nuklir dan memangkas kapasitas produksi delapan reaktor lainnya. Regulasi lingkungan Prancis mewajibkan pengurangan produksi ketika suhu air sungai melampaui ambang kritis, karena air sungai berfungsi sebagai pendingin dan pembuangannya harus menjaga ekosistem perairan. Ketiga reaktor yang dihentikan tersebar di PLTN Golfech (Sungai Garonne), PLTN Bugey (Sungai Rhone), dan PLTN Chooz (Sungai Meuse). Di saat bersamaan, Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa mengonfirmasi musim panas kali ini sebagai yang terpanas di Eropa Barat, dengan suhu rerata 20,74 derajat Celsius.

Angka kematian di Prancis sendiri sudah melampaui 2.000 jiwa, 300 di antaranya pada Mei saja. Menteri Kesehatan Stephanie Rist menyatakan gelombang panas akhir Juni membunuh lebih dari 225 orang tambahan, dengan 91 persen kematian terjadi di dalam rumah pada kurun 22-28 Juni. Sebagian besar korban berusia di atas 45 tahun. Angka yang, jujur saja, memperlihatkan betapa kelompok rentan masih sangat tidak terlindungi.

Jerman kondisinya lebih kelam. Robert Koch Institute mengumumkan pada Kamis (9/7) bahwa gelombang panas hingga akhir Juni sudah merenggut 5.120 nyawa, dengan 4.270 di antaranya lansia di atas 75 tahun. Hanya dalam dua hari, 27-28 Juni, Koeln mencatat 120 kematian, empat kali lipat dari angka normal. Pemimpin Partai Hijau Katharina Droege tidak basa-basi: Kanselir Friedrich Merz dinilai gagal mendorong penegakan hukum perubahan iklim.

Belgia pun tak luput. Kematian pada 18-19 Juni saja mencapai 1.200 jiwa menurut Kementerian Kesehatan setempat, mayoritas berusia di atas 85 tahun. Total korban di pekan terakhir Juni di seluruh Eropa sudah melampaui 4.700 jiwa. Masif.

Presiden Emmanuel Macron, di tengah tekanan politik terhadap pemerintahannya yang dianggap lalai, memperingatkan soal kebakaran lahan yang kian liar. "Sedetik kelalaian dapat membahayakan seluruh keluarga, petugas, dan wilayah perdesaan kita," tulisnya di akun X. Macron juga mengingatkan bahwa sembilan dari 10 kebakaran lahan dipicu perilaku manusia. Pertanyaannya, agaknya, bukan lagi soal kesadaran publik, tapi apakah peringatan di media sosial cukup ketika krisis ini menuntut respons jauh lebih terstruktur dari pemerintah.