Sepatu lari makin canggih, tapi data di pergelangan tangan yang menentukan apakah latihan kamu efektif atau cuma capek-capek saja.
Pasar smartwatch olahraga di 2026 makin ramai, dan memilihnya tidak sesederhana lihat spesifikasi lalu beli. Kebutuhan pelari pemula beda jauh dengan yang sudah rutin marathon. Berikut tujuh pilihan yang layak dicermati.
Garmin Fenix 8
Ini jam tangan yang serius untuk pelari serius. Multi band GPS-nya tergolong paling akurat di kelasnya, ditambah built-in maps dan kemampuan membuat rute langsung dari perangkat. Baterainya, jujur saja, di luar ekspektasi kebanyakan orang: 23 hari dalam mode smartwatch, 31 jam dengan GPS aktif. Fitur prediksi waktu finish dan panduan marathon menjadikannya pilihan utama bagi pelari kompetitif yang butuh lebih dari sekadar pencatat langkah.
Apple Watch Series 11
Bagi yang tidak mau memisahkan jam olahraga dari jam harian, Series 11 tetap relevan. Tipis, elegan, nyaman menemani rapat pagi sekaligus sesi interval sore. GPS L1-nya mempertajam presisi pencatatan jarak dan rute. Pace tracking, heart rate zones, training load, sudah cukup lengkap untuk kebutuhan pelari kasual hingga semi-serius. Ekosistem Apple yang mulus jadi nilai tambah yang sulit diabaikan.
Samsung Galaxy Watch7
Samsung mendorong Galaxy AI ke dalam pengalaman olahraga sehari-hari, dan hasilnya terasa di Watch7. Dual frequency GPS L1 plus L5 memberikan tracking lokasi dan pace yang lebih stabil di kondisi medan bervariasi. Sensor BioActive yang diperbarui makin teliti dalam membaca detak jantung, kualitas tidur, sampai pemulihan tubuh pasca lari panjang. Ringan, tidak mencolok, cocok dipakai dari gym ke kantor tanpa canggung.
Garmin Forerunner 165
Entry point yang tidak mengecewakan. Forerunner 165 menyasar pelari pemula dengan harga menengah tapi tidak pelit fitur: GPS bawaan, built-in GNSS multi-satelit, sensor detak jantung, serta adaptive training plans yang membantu pengguna berkembang bertahap. Baterai 11 hari dalam mode smartwatch. Cukup tangguh untuk sepekan penuh tanpa was-was mati di tengah long run akhir pekan.
Huawei Watch GT Runner 2
Huawei membangun jam ini dengan satu tujuan jelas: pelari. Material titanium membuat bobot terasa ringan di pergelangan, sementara layar AMOLED 1,32 inci tetap terbaca tajam di bawah terik. Fitur Intelligent Marathon-nya menawarkan analisis latihan yang jauh lebih dalam dari sekadar rekap jarak, dilengkapi offline maps, voice navigation, dan dual band GPS. Panduan pemanasan dan pendinginan langsung dari perangkat adalah sentuhan yang agaknya sepele, tapi lumayan menyelamatkan pelari yang suka skip stretching.
Xiaomi Watch S4
Alternatif masuk akal untuk pengguna ekosistem Xiaomi. Dual frequency GNSS L1 plus L5 dengan dukungan lima sistem satelit membuat tracking rute-nya kompetitif. Sensor lengkap: detak jantung, oksigen darah, suhu tubuh, kompas elektronik. Yang membedakan dari rival di segmen ini adalah fitur keamanan: fall detection dan SOS emergency, dua hal yang relevan bagi pelari yang suka menjajal jalur sepi. Bukan main.
Garmin Forerunner 265 Music
Lari tanpa ponsel, tapi tetap ada musiknya. Forerunner 265 Music menyimpan lagu langsung di perangkat dan tersambung ke earphone Bluetooth, selesai urusan. Layar AMOLED 1,3 inci-nya tajam dan nyaman dibaca saat berlari. Garmin Coach dan Training Readiness membantu pengguna memahami kapan harus push harder dan kapan tubuh perlu jeda, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya. Multi band GPS dengan SATIQ menjaga akurasi jarak, dan baterai 15 hari memastikan kamu tidak perlu buru-buru colok charger di sela-sela hari latihan.
Tujuh pilihan, tujuh segmen kebutuhan yang berbeda. Pertanyaannya sederhana: seberapa serius kamu lari?