Lima warga negara Malaysia kini mendekam dalam tahanan kepolisian Tokyo setelah ketahuan menyelundupkan kokain senilai Rp13,6 miliar. Tempat sembunyi yang dipilih cukup klasik: sol bagian dalam sepatu mereka, satu kilogram per orang, rapi dan tak terlihat dari luar.
Penangkapan berlangsung dua gelombang, Jumat dan Sabtu pekan lalu, saat kelima tersangka tiba di Bandara Internasional Haneda dari Malaysia. Petugas bea cukai menemukan kantong serbuk putih terselip di bawah sol sepatu masing-masing. Total barang bukti: 5 kilogram kokain dengan estimasi nilai jual di pasar gelap sekitar USD 757.300.
Empat dari lima tersangka mengakui perbuatannya kepada penyidik, termasuk Mohd Danial Far Han Bin Abdul Rahman. Satu orang sisanya memilih membantah. Mohd Danial mengaku dihubungi seseorang lewat sebuah aplikasi yang memintanya membawa "paket" ke luar negeri, dijanjikan imbalan, dan diberikan sepasang sepatu yang sudah dimodifikasi untuk keperluan itu.
Salah satu tersangka lain punya cerita yang agaknya lebih berani: ia mengklaim telah diberi tahu bahwa staf bandara sudah disuap agar mereka bisa melenggang bebas tanpa hambatan pemeriksaan. Klaim yang, pada kenyataannya, tidak terbukti. Petugas tetap menemukan barang bukti. Fuji News Network yang melaporkan klaim suap itu sendiri tidak menyebutkan bandara mana yang dimaksud, dan tidak mengonfirmasi apakah pembayaran semacam itu benar-benar terjadi.
Penyidik Jepang menduga para tersangka bukan otak di balik operasi ini. Sekadar kurir. Kesulitan keuangan disebut-sebut sebagai alasan mereka menerima tawaran, sebuah pola perekrutan yang bukan hal baru dalam kasus penyelundupan lintas negara.
Dari Kuala Lumpur, Direktur Departemen Investigasi Kejahatan Narkotika Federal Malaysia, Datuk Hussein Omar Khan, membenarkan penangkapan dua pria dan tiga wanita warganya di Jepang. Kepolisian Malaysia, kata Hussein, akan mengirim tim investigasi ke Tokyo untuk menggali informasi lebih jauh, termasuk menelusuri apakah ada keterlibatan sindikat narkoba domestik maupun jaringan internasional yang lebih besar di balik operasi ini.
Modus kurir dengan menyembunyikan narkoba di perlengkapan pribadi, entah di sol sepatu, rangka koper, atau tubuh sendiri, masih terus dipakai sindikat karena biaya operasionalnya murah dan risikonya mudah dilimpahkan ke kurir bayaran. Bagi penyidik di dua negara, pertanyaan yang lebih besar kini menunggu: siapa yang ada di ujung rantai perintah itu?