Empat puluh dua pesawat militer Amerika Serikat rusak atau hancur sepanjang operasi perang melawan Iran, angka yang jauh lebih besar dari yang pernah diakui Pentagon secara resmi. Laporan Congressional Research Service (CRS) yang disusun untuk Kongres AS mengurai kerugian alutsista tersebut secara rinci, mengubah narasi tentang operasi yang Washington klaim berjalan dominan.
Operation Epic Fury dimulai 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi ke fasilitas militer, lokasi rudal, dan target strategis Iran. Gelombang awal serangan dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Biayanya ternyata tidak murah.
Daftar kerugian mencakup alutsista kelas satu: empat jet tempur F-15E Strike Eagle, satu F-35A Lightning II, satu pesawat serang A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat tanker KC-135 Stratotanker, satu pesawat AWACS E-3 Sentry, dua MC-130J Commando II, satu helikopter penyelamat HH-60W Jolly Green II, satu drone pengintai MQ-4C Triton, serta 24 drone MQ-9 Reaper. Total biaya perang kini mendekati US$29 miliar, atau sekitar Rp472 triliun, menurut pejabat senior Pentagon kepada Reuters.
Yang paling menyedot perhatian: jatuhnya F-35A. Pertama kalinya dalam sejarah tempur jet siluman termahal AS itu terkonfirmasi kena tembak musuh. Washington sempat menyangkal, sebelum akhirnya mengakui sebuah F-35A rusak akibat tembakan darat Iran dalam operasi 19 Maret. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung bergerak, mengklaim via platform X bahwa Iran adalah pihak pertama di dunia yang menjatuhkan F-35. Ia memperingatkan: kalau Trump kembali melancarkan serangan, Teheran akan memberikan "lebih banyak kejutan."
Kerugian drone bahkan lebih parah. Bloomberg melaporkan AS kemungkinan kehilangan hingga 30 unit MQ-9 Reaper, melampaui angka 24 unit dalam laporan CRS, dengan total nilai kerusakan mencapai US$1 miliar atau sekitar Rp16,3 triliun. Angka itu setara 20 persen dari seluruh stok drone tersebut sebelum perang meletus. Banyak yang ditembak jatuh saat mengudara, sisanya dihancurkan di darat ketika Iran menghajar pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Harga per unit MQ-9 bisa menembus US$32 juta. Kalikan saja.
Situasi lapangan masih jauh dari tenang. Pada 26 Mei, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim kembali menembak jatuh satu drone MQ-9 yang memasuki wilayah udara Iran di kawasan Teluk Persia, sekaligus mengaku melepas tembakan ke arah sebuah drone RQ-4 Global Hawk dan satu jet tempur F-35. Klaim ini muncul hanya beberapa jam setelah AS mengakui melancarkan serangan ke lokasi peluncuran roket dan kapal Iran yang disebut mencoba menebar ranjau di Selat Hormuz.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April dan diperpanjang tanpa batas oleh Trump memang rapuh, agaknya tinggal nama. Ledakan keras dilaporkan terdengar di sekitar Bandar Abbas sekitar tengah malam waktu setempat. Upaya mediasi terus berjalan dengan Pakistan sebagai fasilitator. Panglima militer Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir, saat bertemu Menlu China Wang Yi di Beijing, menyebut kesepakatan AS-Iran "hampir tercapai."
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui pembicaraan masih berlangsung di Qatar, namun mengingatkan bahwa finalisasi bahasa dalam dokumen masih memerlukan beberapa hari. Satu hal ditegaskannya dengan nada keras: Selat Hormuz akan tetap terbuka, dengan cara apa pun. "Mereka harus buka. Apa yang terjadi di sana melanggar hukum, ilegal, tidak berkelanjutan bagi dunia, dan tidak dapat diterima," kata Rubio.
Yang patut dicermati dari laporan CRS adalah pengakuan bahwa angka kerugian bisa bertambah, karena pembatasan klasifikasi data dan sejumlah kerusakan yang belum terkonfirmasi penyebabnya. Para peneliti kongres menyusun data dari pengarahan CENTCOM, pernyataan Pentagon, dan laporan media, bukan dari dokumen resmi Departemen Pertahanan yang sampai kini belum dirilis. Artinya, 42 itu baru angka lantai. Langit-langitnya, entah di mana.