Sebanyak 42 pelajar hilang setelah kelompok bersenjata menyerbu Sekolah Dasar dan Menengah Pertama Mussa di kawasan Askira-Uba, Negara Bagian Borno, Nigeria, Jumat (15/5/2026) pagi. Rinciannya memilukan: 32 siswa digiring paksa langsung dari ruang kelas saat pelajaran berlangsung, sementara 10 anak lainnya diseret dari rumah-rumah di sekitar sekolah.
Kabar ini dikonfirmasi Senator Ali Ndume, wakil distrik Borno Selatan, sehari setelah kejadian. Ndume menyebut insiden tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi para orang tua siswa. "Penculikan di sekolah ini jauh lebih mengerikan karena terjadi ketika para siswa yang kurang mampu dan tangguh ini sedang fokus mengikuti pelajaran pagi mereka," kata Ndume dalam pernyataan resminya. Ia pun mendesak Angkatan Darat Nigeria untuk segera melancarkan operasi penyelamatan darurat.
Hingga berita ini ditulis, kepolisian maupun militer Nigeria belum merilis pernyataan resmi. Sunyi.
Borno bukan nama baru dalam peta terorisme Afrika Barat. Berbatasan langsung dengan Kamerun, Chad, dan Niger, wilayah ini selama lebih dari 15 tahun menjadi pangkalan Boko Haram dan kelompok ISWAP yang berafiliasi dengan ISIS. Kekerasan yang dimotori dua kelompok ini telah merenggut puluhan ribu nyawa sejak 2009. Belum ada pihak yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan Jumat lalu, tapi rekam jejak di kawasan ini sudah berbicara sendiri.
Distrik Borno Selatan, lokasi yang sama di mana Boko Haram menculik lebih dari 270 siswi di Chibok pada April 2014, kini kembali menjadi episentrum kepedihan. Peristiwa Chibok dulu memicu kemarahan global dan melahirkan gerakan #BringBackOurGirls. Penculikan massal anak sekolah bukan taktik baru bagi kelompok ini. Sudah usang, tapi masih mematikan.
Pemerintah Nigeria sebenarnya tidak tinggal diam. Pasukan komando tambahan dikerahkan ke wilayah konflik dalam beberapa bulan terakhir, dan kerja sama dengan mitra internasional diperluas. Amerika Serikat bahkan telah menempatkan sekitar 100 personel militer di Nigeria utara sejak Februari 2026, bertugas memberikan pelatihan taktis, berbagi intelijen, dan asistensi teknis kepada pasukan lokal. Tapi serangan Jumat membuktikan bahwa semua itu, kalau data di lapangan bisa dipercaya, belum cukup untuk menutup celah yang sudah menganga terlalu lebar di timur laut Nigeria.