SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  254 Tewas di Beirut, Iran Kunci Hormuz, Netanyahu...

Internasional

254 Tewas di Beirut, Iran Kunci Hormuz, Netanyahu Buka Pintu Negosiasi Langsung dengan Lebanon

Serangan udara Israel paling masif di Lebanon menewaskan ratusan warga sipil hanya jam-jam setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan. Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz, dan Netanyahu tiba-tiba bicara damai.

Rabu (8/4) pagi, bom-bom Israel berjatuhan di pusat kota Beirut tanpa peringatan. Kawasan komersial dan pemukiman padat jadi sasaran dalam apa yang militer Israel sendiri sebut sebagai "serangan terkoordinasi terbesar" sejak operasi baru dimulai 2 Maret lalu.

254 orang tewas. 1.165 luka-luka. Satu hari saja.

Angka itu datang dari Pertahanan Sipil Lebanon. Data PBB mencatat 1.888 nyawa melayang sejak konflik memanas kembali, dengan lebih dari 6.000 orang cedera. Sumber lain menyebut korban jiwa sudah melampaui 300 bila dihitung kumulatif sejak serangan itu.

Yang bikin situasi ini makin janggal: rentetan bom itu jatuh hanya beberapa jam setelah Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata mereka sendiri. Israel, tampaknya, punya agenda tersendiri.

Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan serangan itu menyasar infrastruktur komando Hizbullah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan. "Militer Israel melakukan serangan mendadak terhadap ratusan teroris Hizbullah di pusat komando di seluruh Lebanon. Ini adalah pukulan terkonsentrasi terbesar yang dialami Hizbullah sejak Operasi Beeper," katanya lewat pernyataan video. Di lapangan, gambaran Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine jauh lebih suram. "Ambulans masih terus mengevakuasi korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon," ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.

Teheran tidak tinggal diam. Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, sebagai respons langsung. Kartu lama, tapi kali ini Iran main cepat. Harga minyak bereaksi sebelum para diplomat sempat angkat telepon.

Dan rupanya itu cukup untuk menggeser posisi Netanyahu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Jumat (10/4), menyatakan siap membuka pembicaraan langsung dengan pemerintah Lebanon. "Menanggapi permintaan berulang dari Lebanon untuk negosiasi langsung, saya menginstruksikan kabinet untuk memulai pembicaraan sesegera mungkin," ujarnya dalam pernyataan resmi. Gencatan senjata permanen, pelucutan senjata Hizbullah, normalisasi hubungan jangka panjang, semuanya masuk agenda. Pergeseran haluan yang, kalau dilihat dari linimasa, terjadi persis sehari setelah serangan paling berdarah sejak Maret.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyambut sinyal itu dengan positif. Kabinet Lebanon langsung bergerak, memerintahkan pengetatan monopoli senjata di bawah lembaga negara. Perdana Menteri Nawaf Salam tegas: "Pasukan keamanan diminta segera memperkuat penegakan otoritas negara dan memonopoli senjata hanya di tangan otoritas yang sah." Tidak perlu ditafsirkan terlalu dalam. Arahnya jelas ke Hizbullah.

Pertanyaannya sekarang: ini titik balik sungguhan, atau jeda taktis dari semua pihak yang sama-sama kelelahan?

Sudah 1,2 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi sejak konflik pecah kembali awal Maret. Beirut yang sempat mulai bernapas pasca konflik 2024 kini kembali menghitung korban. Dan Selat Hormuz, sekali lagi, terbukti jadi senjata paling ditakuti di kawasan ini. Bukan senapan, bukan roket. Cukup satu jalur laut sempit yang dikunci, efeknya terasa sampai ke pompa bensin di ujung dunia lain.