Dua ratus lima puluh tahun bukan usia yang pendek untuk sebuah republik. Amerika Serikat merayakannya dengan cara yang, jujur saja, cukup mencerminkan betapa beragamnya bangsa itu.
Trump memilih Mount Rushmore sebagai latar pidato Hari Kemerdekaan. Di hadapan empat wajah raksasa yang dipahat ke batu granit, ia menyampaikan pesan kebangsaan yang bagi sebagian kalangan terasa sebagai momen rekonsiliasi, bagi sebagian lain tidak lebih dari panggung yang terlambat. Lokasi itu sendiri bukan netral secara historis, mengingat sengketa kepemilikan lahan dengan suku Lakota yang belum selesai sampai hari ini.
Jauh dari sorot kamera, ribuan umat Katolik memilih cara yang berbeda. National Shrine of Our Lady of Champion di Wisconsin menggelar Novena for Our Nation, gerakan doa nasional selama sembilan hari mulai 1 hingga 9 Juli. Tempat ziarah ini bukan lokasi sembarangan: satu-satunya di Amerika Serikat yang penampakan Bunda Maria-nya diakui secara resmi. Lebih dari 50.000 kartu doa sudah dicetak dan tersebar ke penjuru negeri.
Rektor tempat ziarah itu, Pastor Anthony Stephens, mengatakan novena tersebut disusun sebagai ajakan untuk mendoakan Amerika sekaligus memohon perantaraan Bunda Maria demi terwujudnya persatuan, kekudusan, dan pembaruan hidup bangsa. Bagi komunitasnya, ini bukan seremoni. Ini sesuatu yang jauh lebih serius.
Paralel dengan novena, tempat ziarah yang sama menggelar Catholic Saints of America Exhibit, pameran yang memperkenalkan 76 tokoh kudus Katolik dari latar belakang yang tidak bisa lebih beragam. Ada Julia Greeley, mantan budak yang dikenal karena karya belas kasihnya. Ada Nicholas Black Elk, tabib suku Sioux yang kemudian menjadi pewarta iman Katolik. Ada Katharine Drexel, pewaris kekayaan besar yang mengabdikan hidupnya bagi pendidikan dan pelayanan kaum miskin. Pameran juga menghadirkan relikui dari 14 tokoh kudus, termasuk Frances Xavier Cabrini dan Kateri Tekakwitha.
Menurut Pastor Stephens, sejarah Amerika tidak dapat dilepaskan dari kontribusi umat Katolik yang selama berabad-abad ikut membentuk kehidupan sosial, budaya, dan spiritual bangsa itu. Ia berharap pameran ini membantu masyarakat menyadari bahwa Gereja Katolik telah meninggalkan jejak penting dalam perjalanan sejarah Amerika dan masih punya kontribusi besar bagi masa depannya.
Yang menarik dari peringatan 250 tahun ini: dua narasi besar berjalan berdampingan tanpa terlalu banyak irisan. Satu narasi penuh pidato presidensial dan kembang api. Narasi lain memilih untuk duduk, berdoa, dan bertanya ke mana bangsa mereka sedang berjalan. Pertanyaannya, apakah keduanya bisa saling melengkapi, atau justru makin menegaskan betapa terbelahnya Amerika hari ini? Agaknya itulah soal yang lebih besar dari sekadar ulang tahun ke-250.