JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  25 Tahun Berlalu, Ayah Kandung 'Gadis Sungai Main'...

Internasional

25 Tahun Berlalu, Ayah Kandung 'Gadis Sungai Main' Akhirnya Dijerat

Interpol menangkap pria berusia 67 tahun warga negara Jerman sebagai terduga pembunuh putrinya sendiri, Diana S, yang jasadnya ditemukan di Sungai Main Frankfurt pada 2001. Kasus beku selama seperempat abad ini akhirnya terpecahkan lewat kampanye identifikasi internasional 'Identify Me'.

Interpol Tangkap Ayah Kandung Diana S Terkait Pembunuhan di Jerman

Dua puluh lima tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah keadilan. Tapi pada Selasa pekan lalu, polisi menahan seorang pria berusia 67 tahun, warga negara Jerman, sebagai terduga pembunuh Diana S, remaja putri 16 tahun yang jasadnya ditemukan mengapung di Sungai Main, Frankfurt, pada 31 Juli 2001. Penangkapan dilakukan di Dijon, Prancis, menjelang persidangan yang sudah dijadwalkan.

Kasus ini membeku lebih dari dua dekade. Tidak ada nama, tidak ada keluarga yang melapor, tidak ada petunjuk yang cukup kuat. Yang tersisa hanya jasad seorang gadis yang dibungkus selimut bermotif macan tutul cokelat, ditenggelamkan ke dasar sungai dengan penyangga payung sebagai pemberat. Detail yang mencolok, tapi tidak cukup untuk mengidentifikasi siapa dia.

Titik balik datang dari kampanye 'Identify Me' yang diluncurkan Interpol pada 2023, sebuah inisiatif untuk mengidentifikasi jenazah perempuan tak dikenal yang ditemukan tewas secara mencurigakan di seluruh Eropa selama beberapa dekade terakhir. Pada 2024, Interpol menerbitkan "black notice", semacam sinyal darurat kepada jaringan penegak hukum internasional untuk membuka kembali jalur penyelidikan yang sudah lama meredup.

Isi peringatan itu bukan sekadar data kering. Gambaran kondisi korban yang diungkap forensik sungguh mengerikan. "Gadis itu mengalami banyak luka, yang menunjukkan penganiayaan yang berkepanjangan dan parah," tulis Interpol dalam peringatan resmi tersebut. Patah tulang di kedua lengan atas yang sembuh dalam posisi salah menjadi bukti bahwa kekerasan fisik bukan terjadi sekali. Ada pula indikasi pelecehan seksual, cacat pada telinga kiri akibat penganiayaan, dan bekas luka bakar rokok yang tersebar di tubuhnya.

Analisis forensik memperkirakan Diana S berasal dari Afghanistan, Pakistan, atau wilayah utara India, dan berpindah ke Jerman sejak usia belia. Bisa jadi itulah yang membuat kasusnya begitu lama terbengkalai: tidak ada keluarga yang tahu ke mana harus melapor, tidak ada komunitas yang mengenali wajahnya.

Seruan publik yang menyertai kampanye 'Identify Me' akhirnya menggerakkan informasi yang selama ini tersimpan rapat. Laporan masyarakat, ditambah kemajuan teknologi forensik modern, perlahan merangkai potongan puzzle yang sudah berserakan dua puluh tahun. Identitas Diana S terkonfirmasi. Dan jejak itu mengarah langsung ke ayah kandungnya.

Enam. Itulah jumlah identifikasi yang berhasil diselesaikan kampanye 'Identify Me' hingga kini. Masih ada 41 kasus serupa yang belum terpecahkan, masing-masing mewakili perempuan yang mati tanpa nama dan, agaknya, tanpa ada yang cukup peduli untuk mencari tahu.

Bagi keluarga korban lain yang masih menunggu, kasus Diana S mungkin satu-satunya sinyal bahwa waktu belum sepenuhnya menutup pintu keadilan.