KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  2.312 Penerbangan China-Jepang Dibatalkan, Hubunga...

Internasional

2.312 Penerbangan China-Jepang Dibatalkan, Hubungan Dua Negara Makin Beku

Ketegangan politik antara Beijing dan Tokyo berdampak langsung ke rute penerbangan. Selama Juli-Agustus, 30,7 persen penerbangan terjadwal antara kedua negara lenyap dari jadwal.

Pembatalan 2.312 Penerbangan China-Jepang Terkait Ketegangan Politik

Wisatawan China ke Jepang anjlok lebih dari separuhnya, dan angka itu ternyata baru cerminan dari masalah yang lebih besar yang terbaca di jadwal penerbangan.

Sepanjang Juli hingga Agustus, sebanyak 2.312 penerbangan rute China-Jepang dibatalkan, setara 30,7 persen dari total penerbangan yang semestinya beroperasi di periode tersebut. Juli saja mencatat 1.195 pembatalan, atau 31,4 persen dari seluruh penerbangan terjadwal, berdasarkan data penyedia data penerbangan Flight Master DAST yang dikutip South China Morning Post.

Jepang pun terlempar dari daftar tiga besar destinasi internasional favorit penumpang China. Negeri Sakura kini kalah oleh Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia. Posisi yang ironis, mengingat bertahun-tahun Jepang masuk dalam daftar destinasi impian wisatawan dari daratan.

Tren ini agaknya belum akan berbalik dalam waktu dekat. Li Hanming, analis penerbangan independen, memperkirakan sekitar 780 penerbangan akan kembali dibatalkan pada September saja, mencakup 150 hingga 200 rute berbeda. Bukan angka yang kecil.

Akar masalahnya bisa dilacak ke November tahun lalu, ketika Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengeluarkan pernyataan soal Taiwan yang langsung memantik reaksi keras Beijing. Sebagai balasan, pemerintah China merilis peringatan perjalanan resmi, mengimbau warganya menghindari Jepang. Permintaan tiket melorot konsisten sejak saat itu, dan maskapai China merespons dengan memangkas kapasitas rute tersebut.

Data Japan National Tourism Organisation mempertegas gambaran ini: kunjungan wisatawan China ke Jepang ambles 56,1 persen pada Juli secara tahunan, melanjutkan tren penurunan yang sudah berjalan sejak Desember 2025. Selama tujuh bulan pertama tahun ini, penurunannya mencapai 56,3 persen secara kumulatif.

Yang membuat situasi ini makin mencolok adalah kontrasnya dengan kondisi penerbangan domestik China. Musim panas ini justru jadi musim panas terbaik bagi industri udara negara itu: 153,64 juta perjalanan penumpang tercatat antara 1 Juli hingga 31 Agustus, naik 4,4 persen dari tahun sebelumnya. Lalu lintas internasional tumbuh 3,1 persen, tingkat keterisian kursi rata-rata bertengger di 87,4 persen, dan sempat menyentuh rekor 88,8 persen pada Agustus.

Jadi bukan permintaan yang lesu. Pertanyaannya, ke mana perginya semua itu?

Jawabannya tidak mengalir ke Jepang. Capaian pemulihan rute China-Jepang jauh tertinggal dibanding rute lain: kapasitas penerbangan ke Jepang baru pulih 46,4 persen dibandingkan level 2019, sementara rute ke Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Vietnam, Rusia, dan Indonesia sudah melampaui angka pra-pandemi. Selisih yang cukup untuk menyimpulkan bahwa ini bukan soal pemulihan yang lambat, melainkan ada arus yang memang sengaja dialihkan.