Angka 228 itu bukan klaim Teheran. Itu hasil analisis citra satelit yang dikerjakan Washington Post, dipublikasikan Rabu lalu, dan angkanya jauh melampaui apa yang selama ini diakui pemerintah AS secara terbuka.
Sejak perang pecah pada 28 Februari, serangan-serangan Iran telah merusak atau menghancurkan setidaknya 217 bangunan dan 11 unit peralatan militer di 15 lokasi AS yang tersebar di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Bukan angka kecil.
Yang amblas bukan sembarang infrastruktur. Daftar kerusakannya mencakup hanggar, barak, gudang, depot bahan bakar, sistem radar, lokasi komunikasi satelit, aset pertahanan udara, hingga baterai rudal Patriot di Bahrain dan Kuwait. Di Qatar, serangan melukai instalasi komunikasi satelit di Pangkalan Udara al-Udeid. Di Yordania dan UEA, radar serta peralatan terkait sistem THAAD ikut kena.
Kerusakan terberat terpusat di Naval Support Activity Bahrain, markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, serta tiga fasilitas di Kuwait: Pangkalan Udara Ali al-Salem, Camp Arifjan, dan Camp Buehring. Yang terakhir ini agaknya paling menyita perhatian analis militer.
Camp Buehring punya reputasi pangkalan dengan lapis pertahanan yang tidak main-main, lengkap dengan rudal Patriot, radar canggih, dan pengawasan regional penuh. Justru di sanalah Iran mendaratkan salah satu serangan paling memalukan. Masif.
Caranya? Kombinasi yang, jujur saja, tidak ada yang menduga efektif sebegini. Iran diduga melancarkan serangan salvo, drone dan rudal datang bersamaan dalam jumlah besar, cukup untuk membuat sistem pertahanan udara Camp Buehring kewalahan. Dalam kekacauan itulah jet tempur F-5 Tiger II menerobos masuk, terbang di ketinggian sangat rendah sehingga luput dari deteksi radar yang sedang sibuk menepis gelombang drone.
F-5 Tiger II. Diproduksi antara era 1960 hingga 1970-an, terbang rendah, menghindari radar yang kerepotan, lalu menjatuhkan bom. Ironis? Bisa jadi. Hasilnya nyata: landasan pacu, sistem radar, lusinan pesawat, pusat komando, hingga infrastruktur satelit dilaporkan hancur di sejumlah titik.
Tujuh prajurit AS tewas dalam rangkaian serangan sejak perang dimulai, enam di Kuwait dan satu di Arab Saudi.
Konteks yang tidak boleh dilewatkan: konflik ini bermula dari serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, operasi yang mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi hingga sejumlah pejabat pertahanan senior Iran. Serangan balik ke pangkalan-pangkalan Teluk, kalau data ini bisa dipercaya, terstruktur dan terencana, bukan reaksi sporadis.
Pertanyaannya sederhana: kalau citra satelit komersial saja bisa mengungkap kerusakan sebesar ini, apa lagi yang belum diakui Washington?