Selasa, 13 Oktober 2026. Semua mata tertuju ke pintu kaca Ruang Pengarahan Pers James Brady saat Katie Zacharia melangkah pelan menuju mimbar. Konferensi pers perdana Sekretaris Pers Gedung Putih yang baru itu berlangsung 14 menit, hanya mempersilakan tiga wartawan mengajukan pertanyaan, lalu selesai.
Sebagai perbandingan, pendahulunya Karoline Leavitt biasa menghabiskan sekitar 45 menit di podium yang sama. Bagi sebagian orang di dalam Gedung Putih sendiri, agaknya debut itu jauh dari memuaskan.
Kepada CNN, sejumlah penasihat dan pejabat internal memberikan penilaian yang tidak bisa disebut ringan. Satu sumber menyebutnya "bencana." Yang lain memilih kata-kata seperti "canggung", "tidak wajar", dan "aneh." "Seharusnya dia menjalani latihan menyeluruh dua minggu sebelum tampil di sana," kata seorang penasihat Trump kepada CNN. Pertanyaan yang kemudian beredar di koridor: berapa lama dia bisa bertahan?
Sebagian besar dari 14 menit itu diisi pidato pembukaan yang merinci pencapaian Trump, bukan menjawab pertanyaan. Zacharia menutup sesi dengan cara yang cukup mengejutkan. "Sebenarnya, saya akan mengakhiri ini karena Presiden Trump akan berangkat dengan Marine One untuk perjalanan bersejarah kita ke Alaska, dan kita bisa mengajukan semua pertanyaan kepadanya di sana," katanya, seolah konferensi pers itu cukup sampai di situ.
Sebelum keluar, ada satu pengumuman yang bobotnya tidak kecil: Zacharia menyampaikan bahwa Trump telah meminta Kimberly Guilfoyle, duta besar AS untuk Yunani, mengundurkan diri menyusul serangkaian laporan tentang perilaku tidak pantas selama masa jabatannya di Athena.
Sorotan sesungguhnya justru datang dari pernyataannya soal latar belakang hukum. Zacharia, yang berulang kali memperkenalkan diri sebagai pengacara, menyebut bahwa ia lulus ujian pengacara di China. Pernyataan itu langsung memantik pertanyaan. Berdasarkan aturan yang berlaku sekitar tahun 2011, saat Zacharia diyakini mulai bekerja di Beijing, ujian hukum nasional Tiongkok hanya terbuka bagi warga negara Tiongkok.
Bukan untuk warga asing.
Pencarian South China Morning Post terhadap catatan registrasi pengacara di New York, Washington DC, California, Texas, dan Florida tidak menemukan nama Zacharia. Jurnalis independen Judd Legum melaporkan hal serupa: tidak ada bukti Zacharia pernah memegang izin praktik hukum di satu pun negara bagian AS. Ketika ditanya, Zacharia hanya bilang ia berpraktik dengan "semua sertifikasi sah yang diperlukan", tanpa merinci sertifikasi mana yang dimaksud.
Menurut LinkedIn-nya, Zacharia bekerja sebagai associate di firma hukum Zhong Lun, salah satu yang terbesar di Tiongkok, dari 2011 hingga 2013. Ia mengikuti suaminya yang bekerja di perusahaan ekuitas swasta Amerika di Beijing. Bekerja di firma hukum dan memegang lisensi praktik hukum adalah dua hal yang berbeda, dan SCMP sendiri mencatat bahwa lulus ujian serta mendapatkan izin praktik pun merupakan dua langkah yang terpisah.
Zacharia lulusan Universitas Pepperdine School of Law. Sebelum posisi ini, ia sempat menjadi juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri di bawah Kristi Noem, keluar setelah sekitar dua bulan. Setelahnya ia bergabung sebagai komentator konservatif di Trump Media & Technology Group, platform Truth Social milik Trump. Ia juga pernah bekerja dengan Fix California, organisasi milik Richard Grenell yang kini menjadi utusan khusus presiden.
Trump sendiri justru memberi nilai berbeda. Berdiri di South Lawn menjelang keberangkatan ke Alaska, dengan Zacharia tepat di belakangnya, presiden menilai debutnya "cemerlang." Lewat Truth Social sebelumnya, Trump menggambarkan Zacharia sebagai "pendukung yang setia dan brilian, sejak awal." Bagi Zacharia, jabatan ini ia tulis di X sebagai "suatu kehormatan seumur hidup."
Pertanyaan yang belum terjawab: apakah 14 menit itu gaya yang disengaja, atau sekadar gugup yang belum terkelola?