Tiga reaktor nuklir Prancis kini berhenti beroperasi. Bukan karena kerusakan teknis, bukan pemeliharaan rutin. Sungai-sungai di sekitarnya terlalu panas untuk mendinginkan mesin.
EDF mengumumkan penutupan dua reaktor tambahan setelah suhu air sungai melampaui ambang batas lingkungan yang ditetapkan pemerintah untuk melindungi ekosistem perairan. Air pendingin yang dibuang dari pembangkit, kalau terlalu hangat, bisa menghantam flora dan fauna sungai. Swiss pun ikut terpaksa mengurangi operasional pembangkit Beznau, dengan otoritas setempat memperingatkan kemungkinan penutupan total bila panas ekstrem belum juga mereda.
Ini bukan sekadar musim panas yang tidak nyaman.
Per Kamis, 25 Juni, setidaknya 101 juta orang di seluruh Eropa sedang bertahan dari panas ekstrem. Sekitar 50 juta di antaranya berada di Prancis, 18 juta di Jerman. Kalau batasnya diturunkan ke 30 derajat Celsius, hampir dua pertiga populasi Eropa masuk hitungan: lebih dari 380 juta orang, mencakup 70 juta di Jerman, 63 juta di daratan Prancis, 48 juta di Italia, dan 38 juta di Inggris.
Spanyol mencatat angka yang bikin orang berhenti sejenak. Antara Minggu hingga Rabu pekan ini, sistem pemantauan mortalitas MoMo memperkirakan 212 kematian berlebih yang dikaitkan dengan gelombang panas. Bandingkan dengan periode yang sama tahun 2025 saat Spanyol justru sedang menjalani musim panas terpanas dalam sejarahnya: angka excess mortality kala itu "hanya" 98. Agaknya, panas yang sedang berlangsung sekarang lebih mematikan, setidaknya dalam rentang waktu singkat itu.
28,17 derajat Celsius. Angka yang terdengar biasa saja, tapi ini rekor suhu rata-rata harian tertinggi untuk daratan Spanyol sejak 1950, yaitu gabungan rata-rata suhu maksimum dan minimum dalam 24 jam, yang tercatat pada Selasa lalu. Bagi negara yang sudah terbiasa panas sekalipun, rekor tetap rekor.
Di Jerman, kota Bad Bergzabern di bagian barat menyamai rekor suhu malam sebesar 26,2 derajat yang sebelumnya terjadi pada 2019. Jens Winninghoff, ahli meteorologi Dinas Meteorologi Jerman (DWD), menyebut rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni di Jerman berpotensi terpecahkan pada Jumat ini, seiring panas ekstrem yang diperkirakan menghantam wilayah barat dan barat daya negeri.
Ada ironi yang cukup pedas di balik semua ini. Di Amerika Serikat, sekitar 90% rumah tangga sudah punya pendingin udara. Di Jepang dan Australia, cerita serupa. Di Eropa? Rata-ratanya cuma 20%. Di Jerman bahkan hanya 6%. Di Spanyol yang jauh lebih terik pun, sekitar separuh rumah tangga baru punya AC, kalau data ini bisa dipercaya.
Masuk akal, sebenarnya. Selama puluhan tahun, AC memang tidak dianggap kebutuhan esensial di benua yang iklimnya relatif sejuk. Tutup tirai di siang hari, nyalakan kipas, simpan air dingin di kulkas. Cukup. Tapi kini cara lama itu mulai ketinggalan zaman, bak resep obat yang sudah kedaluwarsa.
Pertanyaannya, berapa musim panas lagi Eropa perlu mengalami ini sebelum infrastrukturnya benar-benar menyesuaikan diri? Gelombang panas tidak pilih-pilih. Yang membedakan nasib tiap orang adalah seberapa siap lingkungan di sekitar mereka, dan untuk sebagian besar Eropa, jawabannya masih belum cukup.